About

MTS YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS. YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS. YASTI 1 Cisaat Kabupaten Sukabumi

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

SAS Kls 8

SAS Kls 8
Klik Disini

UJIAN MADRASAH 2026

UJIAN MADRASAH 2026
LINK UJIAN MADRASAH

TO Ujian MAdrasah

TO Ujian MAdrasah
Ayo klik disini

ZONA BELAJAR YASTI

ASAS KELAS 7

ASAS KELAS 7
klik untuk membuka

Rabu, 12 April 2017

Manusia Setengah Dewa

Manusia Setengah Dewa

Judul Cerpen Manusia Setengah Dewa
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta


“Mama, berangkat dulu ya. Sudah kesiangan ni, assalamu’alaikum”, pamitku lalu berlari karena jarum panjang arlojiku sudah mengarah ke angka 9.
“Walaikumsalam, hati-hati, Chan”, sayup-sayup terdengar ucapan Mama saat aku sudah sampai di halaman.
Segera ku masuk mobil dan menyuruh pak sopir untuk lebih cepat nyetirnya. Mengingat lima belas menit lagi gerbang sekolah akan tutup. Meski hanya butuh sepuluh menit mobil melaju dari rumah ke sekolah, tapi sisa lima menit serasa dua menit.
“Pak, lebih cepat dari biasanya ya. Soalnya sudah jam tujuh kurang seperempat nih”, pintaku pada Pak Tarjo sopir yang biasa mengantar jemputku ke mana saja.
“Baik, Non. Dipakai sabuk pengamannya, Non”.
Kali ini Pak Tarjo tidak samapi sepuluh menit sudah memberhentikan mobilnya di depan gerbang SMA Bunda Pertiwi. Cepat-cepat aku turun dari mobil dan berlari ke kelas. Huh! Lelah juga, keluhku.
“Eh, Chantika. Kok tidak biasanya kamu baru datang di jam sudah mepet seperti ini, ada masalah ya?” tanya Lia teman satu bangkuku.
“Ah, entahlah. Yang jelas aku tadi bangun kesiangan, padahal alarmku juga bunyi. Masa bodoh, yang penting gak telat”.
Tett.. tetttt.. Bel berbunyi dengan nyaring menyuruh dengan tegas supaya semua siswa segera masuk kelas. Sebelum guru datang, segera kukeluarkan buku dari tas merah jambu yang masih digendonganku ini.
“Chan, aku dengar katanya di kelas kita akan ada murid baru. Katanya sih pindahan dari Jakarta”, celetuk Lia.
“Cowok atau cewek?” tanyaku datar.
“Katanya cowok, semoga saja orangnya ganteng dan baik hati” Lia mulai ngelantur.
Aku cuek saja dengan ucapan Lia. Kupusatkan pikiranku pada bacaan yang tertulis di buku catatan Sosiologi yang ada di hadapanku.
Tiba-tiba teman-teman yang tadinya saling ngobrol mendadak diam dan duduk di bangku mereka masing-masing. Ternyata Bu Astuti selaku guru BK masuk bersama seseorang di belakangnya. Mungkin ini yang katanya siswa baru, ucapan itu keluar dari mulut teman-temanku. Bahkan aku juga berpikir sama dengan mereka.
“Selamat pagi, anak-anak”, sapa Bu Tuti.
“Pagi, Bu”.
“Pasti kalian penasaran siapa yang ada di samping ibu sekarang, iya apa tidak?” tanyanya.
“Iya, Bu”.
“Dia adalah siswa baru yang akan menempati kelas ini juga. Tolong perkenalkan dirimu, nak”.
“Baik, Bu”, jawab anak itu.
Ganteng ya. Sepertinya dia orang yang mudah akrab. Kalau dilihat dari penampilannya, dia itu orang yang pandai. Ocehan lirih teman-temanku masuk ke dalam gendang telingaku.
“Hai, perkenalkan nama saya Rio Adi Saputra. Panggil saja Rio. Saya berasal dari SMA 45 Jakarta. Sekarang saya tinggal di Desa Bunga Mekar yang tidak jauh dari sini”, jelasnya.
Hah, Desa Bunga Mekar? Itu kan nama desaku, berarti Rio murid baru ini satu desa denganku. Kira-kira ia tinggal di dusun mana ya, ah nanti aku dikiranya terlalu kepo lagi. Kuurungkan niat untuk menanyakan hal ini padanya.
“Apakah ada yang akan bertanya?”, tanya Rio.
Terlihat Intan mengajungkan tangannya.
“Apa alasan kamu sehingga pindah ke sekolah kami?” tanyanya.
“Emm, karena kedua orangtuaku pindah ke sini untuk menjaga dan merawat kakek dan nenek. Jadi aku harus ikut dengan mereka”, jawab siswa baru itu.
Karena tidak ada yang bertanya lagi, lalu Bu Tuti menyuruhnya untuk duduk bersama Riyan yang memang duduk sendiri. Setelah dirasa selesai, Bu Tuti kembali ke ruang BK. Tak lama kemudian, guru mata pelajaran sosiologi datang.
“Selamat datang untuk Rio”, ucap Pak Anton.
“Terima kasih, Pak”, jawab Rio dengan begitu sopan.
Sekarang pelajaran sudah dimulai dan Rio terlihat begitu antusias mengikutinya. Nampaknya ia memang anak yang pandai, baru pertama ia masuk ia sudah begitu berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh setiap guru. Aku menjadi salut melihat laki-laki seperti dia.
Ketika jam istirahat, aku dan Lia ke kantin untuk membeli makan. Aku merasa sedikit kesal karena kursi sudah penuh, tapi mataku melihat ke arah kursi yang hanya diduduki oleh seorang siswa laki-laki. Entah dia siapa, aku juga kurnag tahu karena mataku hanya bisa melihat punggungnya. Lalu aku dan Lia pergi menghampirinya.
“Hai, bolehkah kami makan dan duduk di sini bersama anda?” tanyaku ragu-ragu.
Aku terkejut saat melihat wajah laki-laki ini. Ternyata dia Rio, pantas saja aku merasa tidak begitu asing.
“Ternyata kamu, Rio. Boleh gabung kan?” tanya Lia.
“Oh, silahkan. Sepertinya kita satu kelas ya?” tanyanya.
“Betul sekali”, jawabku.
Aku merasa nyaman makan bareng Rio. Dia itu orangnya ramah, familiar, tidak sombong, pokoknya semua sifat baik sepertinya dikuasainya. Selesai makan kamipun menuju kelas bersama. Sejak kejadian ini aku, Lia dan Rio menjadi lebih akrab. Bahkan kami bertiga sering belajar kelompok bersama. Tapi sampai sekarang aku dan Lia belum pernah ke rumah Rio, katanya neneknya sedang sakit jadi ia tidak memperbolehkan kami ke rumahnya. Ia takut kalau kami belajar dan mengobrol, bisa mengganggu istirahat neneknya.
Sering berjalannya waktu, aku dan Rio juga semakin dekat. Kami sering jalan bareng, ke kantin bareng, ke perpustakaan bareng. Sepertinya setiap hariku selalu dekat dengannya.
Kringgg.. telingaku mendengar nada sms dari ponsel yang kuletakkan di atas meja belajar. Ternyata Rio mengajakku jalan-jalan. Kemudian kuputuskan untuk meneleponnya.
“Halo, Rio. Benar atau bohongan jalan-jalannya?”, tanyaku memalui udara.
“Halo, Chatika. Benar, dong. Sejak kapan Rio berbohong pada Tika?”
“Kalau begitu aku ganti baju dulu ya, nanti aku tunggu di teras”, kataku.
“Oke, jangan lama-lama ya”, pinta Rio.
“Oke”, kututup teleponnya dan berbegas ganti baju.
Belum ada lima menit setelah percakapan kami di telepon tadi, Rio sudah sms katanya ia sudah di halaman. Kutengok melalui jendela kamarku yang memang terletak di lantai dua, ternyata ia memang tidak bohong. Aku jadi heran dengan Rio, setiap mempunyai janji denganku belum ada sepuluh menit ia pasti sudah sampai di depan rumahku bersama mobil merahnya. Jangan-jangan dia punya kekuatan super lagi. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. “Maaf ya menunggu lama. Kenapa sih kamu itu selalu datang cepat pake buangettttt?” tanyaku penasaran.
“Masa sih?”
“Beneran deh”.
“Nanti saja ngobrolnya, keburu sore”, ini ni yang membuatku kesal dari Rio. Ia selalu mengalihkan pembicaraan setiap aku menanyakan hal yang sama.
Anehnya lagi, aku selalu lupa dengan pertanyaan itu jika sudah asyik ngobrol dengannya. Aku pun tidak tahu mengapa aku merasa begitu nyaman setiap dekat dengan Rio. Jangan-jangan aku sedang jatuh cinta, pikirku.
“Kita mau ke mana sih? Kok jauh banget”, tanyaku karena sejak tadi belum sampai-sampai.
“Mau ke taman yang banyak bunga mawarnya, hehehe”.
Jawaban Rio tiba-tiba membuatku tersenyum, wajahku terasa berseri-seri. Kenapa aku tiba-tiba menjadi kege-eran begini ya. Khayalanku berhenti ketika Rio memberhentikan mobilnya. Sungguh aku takjub dibuatnya, saat kupandang ke luar jendela mobil terhampar mawar berbagai warna yang sangat indah. Yang tadinya aku kira Rio cuma bercanda, ternyata itu beneran.
“Waow, indah sekali bunga mawarnya”, kagumku berkali-kali.
“Keluar yuk, kita lihatnya lebih dekat saja”, ajak Rio.
Sebelum aku keluar, ia buru-buru untuk membukakan pintu mobilnya untukku. Aku jadi merasa sedikit canggung dengannya, kok dia jadi perhatian banget ya.
“Kita ke sana saja ya?” ajaknya seraya menunjuk ke arah gerombolan mawar merah.
“Baiklah”.
Setibanya di temapt yang Rio maksud, lalu kami duduk berdua di bangku yang memang sudah tersedia. Mereka yang mengunjungi taman ini kebanyakan pasangan sejoli. Mungkin tujuan dibuatnya untuk para remaja, pikirku.
“Gimana, indah kan pemandangannya?”
“Indah banget, kamu kok tahu ada taman seindah ini? Kamu kan orang baru di sini”, tanyaku heran.
“Nggak penting apa alasannya kenapa aku bisa tahu tempat seindah ini. Yang jelas aku gak bakal tahu jika bukan karena kamu”, jawabnya.
“Maksud kamu?” aku jadi bingung mendengar jawaban Rio.
Tiba-tiba Rio duduk berlutut di hadapanku. Hal ini membuatku semakin tidak mengerti dengan maksud Rio.
“Tika, sudah lama aku pendam rasa ini. Tepatnya sejak pertama kita ngobrol di kantin dulu”, kata Rio.
“Maksud kamu?”
“Maukah kamu menjadi seseorang yang lebih dari sahabat untukku? Aku sayang sama kamu, Chantika”, ucap Rio seraya memegang tangan kedua tanganku.
Aku bingung mau jawab apa. Meski sebenarnya hatiku mengatakan yang sama, tapi bagaimana aku mengungkapkannya. Kupejamkan mata berharap bisa menemukan sesuatu.
“Rio, terima kasih atas semua perhatian yang selama ini kamu berikan padaku. Segala bantuan yang kamu berikan juga sangat bermanfaat untukku. Aku juga sayang kamu, Rio”.
Nampak wajah Rio begitu senang mendengar jawaban dariku. Aku pun segera hanyut dalam pelukan hangatnya. Di tengah hamparan mawar merah, cinta pertamaku tumbuh dengan pelan.
“Eh, nak Rio. Masuk, Nak. Sebentar ya, Tante panggil Chantik dulu. Duduk saja, biasa saja di rumah Chantika ya”, kata Mamaku ketika Rio datang ke rumah.
“Iya, Tante. Terima kasih”, dengan begitu sopan Rio menjawab perkataan Mama.
Mama berjalan menuju kamarku dan menyuruhku untuk segera ke bawah.
“Benarkah? Mama tidak bohong kan?” tanyaku.
“Tidak, Tika. Cepat turun, kasihan Rio menunggu di bawah sendirian”, perintah Mama.
Aku pun segera menuruni satu persatu anak tangga untuk menghampiri kekasihku. Mataku menagkap sesosok yang aku sayangi itu sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Sudah lama ya?” tanyaku tiba-tiba sehingga mengagetkannya.
“Enggak kok, kamu lagi belajar ya?”
“Enggak juga, cuma sekedar membaca buku sejarah yang aku pinjam dari perpusatakaan kemarin”, jawabku seraya duduk tidak jauh darinya.
Kami lalu ngobrol dengan canda tawa. Tapi kami tidak sepenuhnya membicarakan hal-hal yang tidak penting, aku dan Rio lebih membahas tentang rencana pendidikan setelah SMA, pekerjaan apa yang dilakoni, dan lain lain. Ini karena Rio lebih suka membahas hal yang berkaitan dengan pendidikan dan bisnis.
Tak terasa dua jam berlalu, mengingat waktu sudah sore Rio pamit untuk pulang.
“Jangan lupa nanti malam belajar ya”, pesan Rio.
“Emm, oke. Mari aku antar sampai depan”.
“Lho, tumben kamu gak bawa kendaraan?” tanyaku ketika tidak melihat kendaraan Rio terparkir di halaman.
“Sekali-kali jalan kaki”, jawabnya singkat.
“Hati-hati ya, nanti kalau sudah sampai di rumah jangan lupa sms aku”.
“Siap. Eh, sepertinya kamu dipanggil Mama kamu deh?”
“Sepertinya iya, kalau gitu sampai jumpa besuk ya. Daaaa..” aku menuju ke belakang karena dipanggil Mama.
Sepeluh menit belum berlalu, satu sms dari sudah kubaca. Ia memberitahuku kalau dirinya sudah sampai di rumah dengan selamat.
“Rio sudah pulang, kalau begitu Mama sia-sia manggil kamu”, kata Mama.
“Memangnya ada apa, Ma?”
“kalau begitu kamu saja yang mengantarnya ya, ini kue pesanan Bu Mirah. Anaknya Nek Ummi yang baru pindah beberapa bulan yang lalu itu lo”, Mama malah memerintahku tanpa menjawab pertanyaanku dulu.
“Oh, Tika tahu kok, Ma”.
Kakiku segera berjalan menuju rumah Nenek Ummi yang jaraknya kira-kira hanya 150 meter dari rumah. Tokkk.. tokkk.. Sesampainya di depan pintu, berkali-kali kuketuk pintunya. Sayup-sayup terdengar langkah menuju pintu, tak lama kemudian seseorang membuka pintunya. Seorang wanita cantik sekitar 30 tahunan muncul dari balik pintu. Aku rasa ini yang Mama maksud anaknya Nenek Ummi, Bu Mirah.
“Saya Chantika, Tante. Anaknya Bu Anik pembuat kue di gang sebelah”.
“Oh ini ya yang namanya Chantika, masuk dulu”, ajaknya sembari menerima kue yang kuberikan.
“Terima kasih, Tante. Sudah sore, saya pulang saja. Lain kali saya main ke sini”, jawabku.
Sebelum aku pergi terdengar suara laki-laki dari dalam, sepertinya anaknya Bu Mirah.
“Siapa, Ma?” dan suara langkahnya semakin dekat.
Betapa terkejutnya aku ketika laki-laki yang keluar itu Rio. Rio yang barusaja ke rumahku. Jadi Rio anaknya Bu Mirah, cucunya Nek Ummi. Pantas saja rumahnya sedekat ini, yang tadinya aku pikir dia jelmaan dewa seperti kisah-kisah di dongeng ternyata ini jawabannya.
“Rio?” aku keheranan.
“Lhah, Chantika. Ada apa kok sore-sore datang kemari?” tanyanya.
“Jadi di sini rumah kamu?”
“Bukannya kalian sudah berteman lama, kata Rio kalian satu kelas. Chantika kenapa baru tahu kalau ini rumah Rio?” Bu Mirah juga heran melihat tingkah anehku.
“Maaf, Bu. Rio tidak pernah bercerita kalau ia itu cucunya Nek Ummi”, jelasku.
“Masuk dulu, Tik. Sekarang kamu sudah tahu rumahku kan?” ledeknya.
Tanpa mempedulikan ledekan Rio, aku akhirnya luluh dan masuk ke dlam rumahnya.
“Tahu gak, aku pikir kamu itu bukan manusia lo”, ku mulai perbincangan dengannya setelah Bu Mirah meninggalakan kami berdua.
“Enggak, aku nggak tahu”, jawab Rio yang membuatku semakin kesal.
“Aku pulang saja deh, kamunya gak asyik gitu”.
“Eeiittsss, jangan gitu dong. Kalau cemberut manisnya hilang lo”, ternyata dibalik keseriusan Rio, dia bisa membuat gombalan juga. Batinku.
“Memangnya kenapa kok kamu bisa mikir kalau aku bukan manusia?” tanyanya.
“Habisnya setiap mau ke rumahku, belum ada lima menit sudah siaga di depan pintu. Tadi juga, padahal kamu jalan kaki masa belum ada sepuluh menit kamu bilang sudah sampai di rumah”.
“Kalau begitu sore ini aku bikin kejutan dong buat kamu”, candanya.
Tawa yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah. Tapi aku berusaha untuk mengeluarkan tawaku sepelan mungkin, mengingat ada kakek dan neneknya yang sudah tua. Selain itu, aku kan di sini sebagai tamu.
“Aku pulang ya, nanti Mamaku khawatir dikiranya aku belok jalan”.
“Emm, iya manis. Hati-hati lo ya”, Rio mengantarku sampai pintu gerbangnya.
Di tengah senja yang mulai menyapa, kutemukan teka-teki yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam diriku. Bersama redup sinar mentari, akhirnya kudapatkan jawaban bahwa Rio bukanlah manusia setengah dewa yang bisa menjelma dan mempunyai kekuatan teleportasi sehingga bisa berpindah tempat secepat sambaran kilat. Ternyata ia hanyalah manusia yang sama denganku, yang memang tinggal sebagai tetanggaku.

Ketika Hati Harus Memilih

Ketika Hati Harus Memilih

Judul Cerpen Ketika Hati Harus Memilih
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Korea, Cerpen Perpisahan

Lolos moderasi pada: 12 April 2017
Siang ini surya begitu semangat menerangi bumi. Sepulang sekolah kulemparkan tas merahku ke atas kasur. Kurebahkan badanku yang terasa lesu di sofa dekat jendela sembari merasakan dahaga yang menggerogoti tenggorokanku. Kakiku masih begitu berat tuk kuajak melangkah menuju dapur.
Ceklekkk… Pintu tiba-tiba terbuka dan perempuan kecil yang imut masuk mendekatiku dengan segelas jus di tangannya.
“Kak, aku buatin jus mangga kesukaan kakak” ucap Mi Rae seraya menyerahkan segelas jus padaku.
“Memang kamu adik yang perhatian, tahu aja kalau kakaknya lagi kehausan”, kataku sembari mengacak-acak rambut pirangnya.
“Iya dong, Mi Rae gitu loh!”
Dialah adikku yang manis, Park Mi Rae yang biasa dipanggil Mi Rae adalah satu-satunya saudara kandungku. Aku, Park Yoo Rae yang biasa disapa Yoo Rae dan adikku Mi Rae, kami terlahir dengan darah Indo-Korea. Ibuku asli Korea dan ayahku Jawa. Namun kebahagiaan yang sangat kita inginkan tidaklah selalu berjalan lancar sesuai skenario.
Sudah dua tahun belakangan ini ayah dan ibu tidak terlihat akur. Ibuku sering di Korea dan ayah tidak menyusulnya. Bahkan hampir enam bulan Ibu di Korea belum kunjung kembali, aku pun sulit untuk menghubunginya. Entah ada apa dengan mereka, setiap aku tanya pada Ayah selalu saja ia mengalihkan pembicaraan.
“Kak, tadi mama telepon loh”, celetuk Mi Rae dengan wajah berseri.
“Iya? Benarkah?”
“Iya, Mi Rae gak bohong, Kakak. Kata mama, mama ingin kita ke Korea weekend nanti, Kak” jawabnya.
Aku jadi ingat apa yang ayah katakan padaku kemarin sore. Ya, kata-kata yang membuatku sontak menangis dan tidak bisa menerima kenyataan yang harus terjadi. Siapa yang tidak sedih, kesal, berontak, menangis bahkan meledak jika kita diberitahu kalau orangtua kita akan cerai. Inilah yang ayah katakan padaku seusai mandi saat Mi Rae sedang belajar. Sungguh rasanya bercampur aduk jadi satu, aku pun tak ingin tahu apa penyebab perceraian ini. Ayah juga bilang kalau mama akan mengajukan hak asuh anak dan kemungkinan besar akan berhasil. Tidak! Mungkinkah aku dan Mi Rae disuruh ke Korea karena ini? Tidak! Aku tidak ingin pisah dengan ayahku.
“Kak, kok gak direspon sih? Kok aku dikacangin?” Mi Rae menggoyang-goyang tubuhku dan membuyarkan lamunanku.
“Mmmmm, iya iya. Kita tanya ayah dulu ya”, jawabku.
“Oke, Kak. Tapi sebenarnya Mi Rae sangat ingin ke Korea, Kak. Mi Rae kangen sama mama, kakek nenek dan saudara semua yang ada di Korea”, katanya.
“Kakak juga kangen, Mi Rae. Tapi kita harus tanya sama ayah dulu, Korea kan jauh”, bujukku setelah menghabiskan segelas jus mangga buatannya.
“Baiklah, Kak. Mi Rae ke bawah ya, Kak. Mau nonton tv, kalau sudah habis sekalian aku bawakan ke dapur gelasnya, Kak”.
“Memang kamu adik yang baik”, kucium pipi imut adikku lalu kuserahkan gelas ini padanya.
Kini aku diam sendiri di atas sofa dengan pikiran tertuju pada perkataan ayah kemarin dan aku kaitkan dengan ajakan mama untuk ke Korea. Ah, bagaimana kalau hak asuh Mi Rae di tangan mama dan aku, aku tergantung pada keputusanku karena umurku yang sudah 18 tahun. Bagaimana kalau Mi Rae di Korea sedangkan aku ingin tetap di Jakarta, pastinya aku akan merindukan canda tawanya. Entahlah aku tak tahu.
Kutengok jam dinding sudah menunjuk pukul 21.00, tapi Ayah kok belum pulang ya. Biasanyakan jam segini sudah pulang.
“Kak, aku mau tidur dulu ya”, pamit Mi Rae.
Kuanggukkan kepalaku sebagai tanda setuju dan kulanjutkan menonton drama China yang berjudul Loving Never Forgetting.
Lima belas menit sudah berlalu, ayah belum kunjung pulang. Kuputuskan untuk menuju pulau kapuk karena mataku sudah mulai lengket. Baru sekitar lima menit ku pejamkan mata, terdengar suara salam ayah.
“Assalamu’alaikum.. Yoo Rae.. Mi Rae.. Apa kalian sudah tidur, kok sepi sekali?”
“Wa’alaikumsalam, Yah. Mi Rae sudah tidur, Yah. Ayah kok baru pulang?” aku keluar dari kamar dan menghampiri Ayah.
“Maaf Yoo Rae, pasti kamu dan adikmu menunggu Ayah ya? Ayah tadi ada rapat mendadak” sementara aku berjalan menuju dapur untuk membuat segelas kopi dan merebus air untuk mandi ayah.
“Ini kopinya, Yah. Yah, tadi Mi Rae ngomong sama aku katanya sebelum aku pulang dari sekolah, tadi siang mama telepon. Mama menyuruh kami untuk ke Korea weekend nanti, bagaimana menurut Ayah?” aku mulai bicara pada intinya.
Namun Ayah justru diam seribu bahasa.
“Yaahhhhh!” panggilku sedikit keras sehingga membuatnya terkejut. “Apa Ayah sudah tahu rencana mama untuk menyuruh aku dan Mi Rae ke Korea?” tanyaku lagi.
Lalu Ayah menyeruput kopi buatanku, “Sudah selayaknya Ayah memberitahumu semuanya yang telah terjadi, Rae. Aku pikir kamu sudah mampu menerimanya mengingat umurmu yang sudah dewasa”.
Aku jadi bingung dengan yang dikatakan Ayah baru saja. Apa yang dimaksudkan Ayah ini? Pikirku.
“Sebenarnya Mamamu tiga hari yang lalu ke Jakarta, Rae. Ia menghadiri sidang keputusan perceraian sekaligus sidang hak asuh anak”.
“Kenapa Ayah tidak bilang sama Yoo Rae, lalu Mama menginap di mana, Yah? Kenapa Mama tidak mampir ke rumah?” aku bertanya tiada henti.
“Mamamu menginap di hotel dan kami resmi bercerai, Rae. Maafkan ayah juga mamamu karena tidak bisa mempertahankan keluarga ini. Maafkan ayah Yoo Rae”, perlahan Ayah mulai menangis di hadapanku.
“Lalu bagaimana dengan hak asuh, Yah? Mi Rae dan aku ikut ayah di Indonesia kan? Yah, jawab, Yah!”
Terdengar begitu jelas tarikan panjang napas Ayah.
“Hak asuh Mi Rae berhasil dimenangkan oleh mamamu, sementara kamu itu tergantung pada keputusanmu sendiri, Rae”, kata Ayah lemas.
Kini aku yang mendadak tak bertenaga. Hah, apa? Apa yang akan terjadi denganku jika aku jauh dengan Mi Rae, apa yang harus aku katakan. Bersama ayah atau mama? Sebenarnya aku lebih nyaman di Indonesia bersama ayah, namun aku tak ingin berpisah dengan Mi Rae dan aku pun sejak dulu ingin tinggal di Korea dengan dikelilingi teknologi dan pendidikan. Ini sungguh membuatku bingung.
“Yoo Rae, kenapa kamu melamun?”
“Enggak kok, Yah. Aku cuma bingung aja”, jawabku.
“Apa yang harus bingungkan, kamu tinggal pilih bersama ayah atau mama. Itu saja Yoo Rae. Kamu kan pernah bilang sama ayah, kalau kamu ingin kuliah di Korea, iya kan?”
Kuanggukkan pelan kepalaku, “Iya, Yah. Meskipun tinggal mengatakan, tapi ini sulit Ayah”. Aku diam sejenak.
“Kalau aku ikut ayah di sini, aku harus jauh dengan Mi Rae yang menggemaskan juga dengan mama yang cantik itu. Tapi kalau aku putuskan untuk ikut mama di Korea, siapa yang akan menyiapkan sarapan, air hangat, kopi, mencuci dan menyetrika baju Ayah?” tambahku panjang lebar.
“Bagaimana nanti kalau aku rindu Ayah?” keluhku lagi.
“Kamu jangan risaukan ayah, Yoo Rae. Kan masih ada adik ayah yang tinggal sama nenek dan saudara lain di sana. Daripada mereka nggerombol di sana, ayah bisa menyuruh ia dan suaminya untuk tinggal di sini. Masalah baju, jangan juga dirisaukan. Sekarang kan di mana-mana ada laundry, Yoo Rae”, kata ayah sembari mengelus rambutku.
“Ayah tahu, kamu sebenarnya sangat ingin tinggal di Korea sejak kamu kecil dulu”, tambah ayah setelah menghabiskan secangkir kopinya.
Aku tak kuasa menahan air mata, memang benar apa yang dikatakan ayah. Sejak aku kecil aku lebih senang di Korea, namun ayah bersikeras untuk tinggal di Jakarta dengan jalan macetnya ini. Dan sebenarnya sekarang aku sangat merindukan mama, kakek, nenek dan saudara lainnya yang ada di Korea. Lalu bagaimana dengan ayahku? Kebingungan yang sangat meresahkan harus kurasakan saat mataku mulai lelah berkedip.
“Yoo Rae mau tidur dulu ya, Yah”.
“Iya, silahkan. Pikirkan baik-baik Yoo Rae, tapi jangan lupakan sekolahmu”.
Kumatikan kompor terlebih dahulu sebelum menuju ke kamar.
—
“Kakak yang buat susu dan aku yang menyiapkan roti dan selai ya, Kak” tanya Mi Rae.
“Baiklah”.
Setelah semua siap, aku, Mi Rae dan ayah sarapan bersama. Aku teringat mama saat ia duduk di kursi sebelah ayah. Andaikan mama di sini seperti dulu pasti rasanya lebih lengkap. Mama bisa buatkan kimchi, makanan khas Korea kesukaanku.
“Kakak kok ngelamun aja sih?” Mi Rae sedikit membuatku terkejut,
“Enggak kok, ini kakak juga mau makan rotinya. Siapa bilang kakak ngelamun”.
“Ayah, kami diizininkan kalau weekend nanti ke Korea? Kakak sudah tanya sama ayah kan?” tiba-tiba Mi Rae menenyakan itu ketika aku mulai tenang.
“Kalau ayah sih boleh-boleh saja, tergantung Kak Yoo Rae itu bagaimana?” ayah justru balik bertanya.
“Entahlah, kakak masih bingung, Mir. Nanti kalau kakak gak ikut, biar kakak bilang sama mama untuk menjemputmu”, tidak kujelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi karena umur 8 tahun aku rasa belum waktunya untuk ikut menyangga masalah keluarga seperti ini.
“Ah, kakak gak asyik deh”, celetuk Mi Rae.
Setelah selesai sarapan aku mencuci piring lalu bergegas sekolah.
Sepulang sekolah aku masih kepikiran tentang mana yang harus kupilih. Bersama ayah atau mama. Akhirnya kulaksanakan niatku untuk berbicara dengan mama, kuambil ponselku yang ada di tas dan segera mencari nomor teleponnya.
Tuttt.. tuutttt.. Nada sambung sudah terdengar dan tak lama kemudian suara yang diseberang sana menyapaku.
“Yeoboseyo(halo)?” kata orang yang diseberang sana.
“Yeoboseyo, Eomma(halo, mama). Ini Yoo Rae, Eomma(mama). Eomma(mama) pakai bahasa Indonesia saja ya”, pintaku karena kau belum begitu mahir berbahasa Korea.
“Park Yoo Rae, Eomma(mama) merindukanmu. Bagaimana kabarmu sayang?” tanya Mama.
“Aku baik, Ma. Eomma(mama)?”
“Mama dan semua keluarga di sini alhamdulillah juga baik, Rae”, kata Mama.
Aku berbicara langsung pada intinya mengingat pulsaku yang tidak terbilang banyak.
“Baiklah, jika kamu ingin Eomma ke Indonesia untuk menjemput Mi Rae. Tapi, apakah kamu tidak ingin tinggal di Korea dengan Eomma?”
“Yoo Rae masih butuh waktu lagi untuk memikirkan kembali, Eomma. Yang penting Eomma benar-benar mau datang ke Indonesia, selain itu Yoo Rae harap Eomma mau berkunjung ke rumah kakek dan nenek untuk mengucapkan maaf supaya Eomma tidak dipandang begitu jelek di hadapan saudara yang lainnnya”, jelasku.
“Baiklah, Sabtu Eomma datang menepati janji ini Yoo Rae”, kata Mama.
“Gamsahamnida, Eomma(terimakasih, ma). Sampai ketemu hari Sabtu, Eomma. Daaaa, Eomma”.
“Daaa.. Park Yoo Rae-ah”, tutup Mama dengan logat Koreanya.
Akhirnya hari yang kami tunggu tiba. Hari ini Jum’at, 4 Maret tepatnya pukul sepuluh kurang seperempat aku melihat wajah cantik mamaku di Bandara Soekarno-Hatta. Aku dan Mi Rae segera menghampiri dan memeluknya.
“Eommaaaaa…” teriak Mi Rae.
Kami lalu melakukan perjalanan menuju rumah ayah. Setelah mama beristirahat di kamarku, ayah datang dan segera mengajak mama untuk berangkat ke rumah nenek.
“Ma, Mi Rae ikut ke rumah nenek ya?”
“Silahkan, sayang”, jawab Mama.
“Yoo Rae, kamu gak ikut?” tanya Ayah.
“Tidak, Yah. Aku di rumah saja, biar aku ngemasin bajunya Mi Rae saja. Daripada besok terburu-buru”, jawabku.
“Jadi kakak beneran gak ikut ke Korea?”
“Nanti saja bahas yang itu, Mir. Sekarang segera berangkat saja, nanti kalau terlalu sore biasanya macet”.
Malam ini aku makan kimchi buatan mama. Selesai kami makan malam, kuutarakan semua yang sedari tadi ingin kuungkapkan.
“Ma, sebelumnya Yoo Rae minta maaf kalau ini akan membuat Eomma kecewa. Tapi aku yakin, diakhir Eomma pasti akan tersenyum. Untuk Ayah, sebelumnya Yoo Rae juga minta maaf jika di akhir Yoo Rae membuat kecewa Ayah”, ucapku tiba-tiba.
“Maksud Yoo Rae?”
“Iya, maksud kamu apa Rae?” ayah pun bertanya.
“Aku merindukan saat-saat bersama seperti ini Ayah, Eomma. Kenapa harus ada perpisahan di dunia ini?” Mi Rae bingung mendengar perkataanku ditambah lagi aku mulai menangis.
“Kak, jangan nangis dong. Memangnya ada apa?” tanya Mi Rae polos.
Tak kupedulikan pertanyaan Mi Rae yang baru saja lewat.
“Ma, aku sudah memutuskan untuk tidak ikut Mama di Korea. Biarlah Mi Rae saja yang besok berangkat bersama Mama”, kuusap air mataku yang terus mendesak keluar.
“Apakah kamu yakin, Rae?” tanya Ayah serius.
Kuanggukkan kepalaku, “Tapi, Yah. Aku tetap akan melanjutkan keinginanku yang sering ayah katakan tempo hari”.
“Maksud kamu?” sementara Mama dan Mi Rae tak bersuara.
“Aku akan tinggal di Indonesia selama aku masih memakai seragam abu-abu putih ini, Yah. Dan aku memantapkan diri untuk menjadi warga negara Korea setelah aku lulus SMA, karena aku ingin tinggal dan kuliah di Korea. Maafkan Yoo Rae, Ayah, karena tak lama lagi aku meninggalkanmu dan akan hidup bersama Mama. Tapi Yoo Rae janji, Yoo Rae akan sering mengunjungi ayah setelah Yoo Rae mengurus paspor nantinya”, kupeluk erat tubuh ayahku.
“Yoo Rae, apa yang harus ayah maafkan sehingga kamu minta maaf? Jika ini keputusanmu, aku tidak bisa menolaknya, Nak. Ayah yakin, keputusan yang kamu pilih adalah yang terbaik untukmu Yoo Rae”, katanya sembari mengelus rambutku yang memang sedang kugerai.
“Masih juga lama, Kak. Kakak mau ke Koreanya”, sahut Mi Rae.
“Ssssttttt.. jangan asal menyahut Mi Rae”, ucap Mama.
Saat jam dinding menyuarakan pukul sembilan, tanpa kata ayah segera pergi ke kamarnya. Sementara aku, mama dan Mi Rae masih di depan televisi.
“Ma, kakek sama nenek merindukanku tidak?” tanya Mi Rae.
“Iya, dong. Makanya mama mengajak Mi Rae ke sana”.
Aku yang duduk di samping mama pura-pura tidak mendengar percakapan mereka. Dan kulanjutkan nonton drama korea di televisi.
“Kamu belum ngantuk sayang?” tanya Mama pada Mi Rae.
“Sebenarnya sudah, tapi kalau mama belum tidur aku juga gak akan tidur”, jawabnya.
“Kalau begitu kita tidur saja, kakak juga sudah ngantuk Ma”, sahutku.
Kami bertiga tidur satu ranjang di kamarku. Meski berubah menjadi sempit, tapi rasanya tetap nyenyak karena mama yang aku rindukan ada di sampingku.
Seusai sarapan aku mengantar mama dan Mi Rae ke bandara karena hari ini memang hari Minggu jadi aku tidak sekolah. Sementara ayah memilih di rumah untuk mengerjakan tugas kantor, karena ia besok akan ke sekolah Mi Rae untuk mengurus kepindahannya ke Korea.
Sepanjang perjalanan menuju bandara sampai tiba di bandara, wajah Mi Rae selalu terlihat senang sekali. Ia mulai mengkhayal tentang apa yang akan ia lakukan sesampainya di Korea nanti, bagaimana teman barunya di sekolah dan bagaimana ia akan bergaul dengan anak-anak yang tidak mengerti bahasanya.
“Jangan banyak bicara dulu, Mir. Sampai aja belum, udah bingung tingkat ratu”, ledekku.
“Biarin, masbuku? Masalah buat aku!” jawabnya dengan ledekan pula.
Sesampainya di bandara, aku hanya mengantar mereka di luar mobil saja. Aku tidak ingin ikut masuk bandara, aku tidak ingin mereka berangkat dengan menyaksikan linangan air mataku. Kucium tangan lembut mama dan memeluknya.
“Hati-hati, Ma”, ucapku lirih.
Mi Rae meraih tanganku dan menciumnya pula. Kami pun berpelukan.
“Kak, cepat nyusul ke Korea bersama ayah ya”, ucapnya.
Meski sudah kutahan air mata ini, tetap saja mendesak keluar. Sebelum kujawab pertanyaan Mi Rae, terlebih dahulu kusembunyikan tangisku.
“Insya Allah, Mi Rae. Ya sudah, nanti tertinggal pesawat. Hati-hati Mi Rae”.
Lalu mereka melangkah meninggalkanku. Kulambaikan tanganku pada mereka begitu pun mereka.
Kini mama dan Mi Rae telah hilang dari pandanganku. Aku pun kembali masuk mobil dan menuju rumah. Tangisku pecah saat perjalanan pulang dan semakin menjadi saat tiba di rumah. Ya Allah, lindungilah mama dan adikku. Jauhkanlah mereka dari bahaya. Aku berdoa di tengah seruan tangisku.

Legenda Batu Menangis

Legenda Batu Menangis



Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya.

Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?"
Namun, apa jawaban anak gadis itu?

"Bukan," katanya dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.

"Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?"
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. " Ia adalah budakk!"
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

"Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia...."
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

" Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu...Ibu...ampunilah anakmu.." Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut " Batu Menangis ".

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Cerita Rakyat - Sangkuriang

Cerita Rakyat - Sangkuriang


Berikut ini adalah sebuah cerita rakyat asal jawa barat yang cukup familiar di indonesia yang mengandung pesan moral sebagai refleksi diri bagi kita semua.

Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng) bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewa-dewi kembali.

Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.

Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.

Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka.

Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya.

Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda.

Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Asal Mula Danau Limboto

Asal Mula Danau Limboto


Danau Limboto merupakan sebuah danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo Indonesia. Dulunya, danau ini bernama Bulalo lo limu o tutu, yang berarti danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, keberadaan danau seluas kurang lebih 3.000 hektar ini disebabkan oleh sebuah peristiwa ajaib yang terjadi di daerah itu. Peristiwa apakah yang menyebabkan terjadinya Danau Limboto? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Danau Limboto berikut ini!
* * *
Dahulu, daerah Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Di tengahnya terdapat dua buah gunung yang tinggi, yaitu Gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila. Kedua gunung tersebut merupakan petunjuk arah bagi masyarakat yang akan memasuki Gorontalo melalui jalur laut. Gunung Bilohuto menunjukkan arah barat, sedangkan Gunung Tilongkabila menunjukkan arah timur.
Pada suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi daratan. Tak beberapa lama kemudian, kawasan itu berubah menjadi hamparan hutan yang sangat luas. Di beberapa tempat masih terlihat adanya air laut tergenang, dan di beberapa tempat yang lain muncul sejumlah mata air tawar, yang kemudian membentuk genangan air tawar. Salah satu di antara mata air tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan sejuk. Mata air yang berada di tengah-tengah hutan dan jarang dijamah oleh manusia tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini sering didatangi oleh tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan untuk mandi dan bermain sembur-semburan air.  
Pada suatu hari, ketika ketujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan bersendau gurau di sekitar mata air Tupalo tersebut, seorang pemuda tampan bernama Jilumoto melintas di tempat itu. Jilumoto dalam bahasa setempat berarti seorang penduduk kahyangan berkunjung ke bumi dengan menjelma menjadi manusia. Melihat ketujuh bidadari tersebut, Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik pohon itu, ia memerhatikan ketujuh bidadari yang sedang asyik mandi sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.
“Aduhai.... cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub.
Melihat kecantikan para bidadari tersebut, Jilumoto tiba-tiba timbul niatnya untuk mengambil salah satu sayap mereka yang diletakkan di atas batu besar, sehingga si pemilik sayap itu tidak dapat terbang kembali ke kahyangan. Dengan begitu, maka ia dapat memperistrinya. Ketika para bidadari tersebut sedang asyik bersendau gurau, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah berhasil mengambil salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu kembali bersembunyi di balik pohon besar.
Ketika hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan bersiap-siap untuk pulang ke Kahyangan. Setelah memakai kembali sayap masing-masing, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah seorang di antara mereka masih tampak kebingungan mencari sayapnya.
“Hai, Adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap Kakak?”.
Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari tertua yang bernama Mbu`i Bungale. Keenam adiknya segera membantu sang Kakak untuk mencari sayap yang hilang tersebut. Mereka telah mencari ke sana kemari, namun sayap tersebut belum juga ditemukan. Karena hari mulai gelap, keenam bidadari itu pergi meninggalkan sang Kakak seorang diri di dekat Mata Air Tupalo.
“Kakak.. jaga diri Kakak baik-baik!” seru bidadari yang bungsu.
“Adikku...! Jangan tinggalkan Kakak!” teriak Mbu`i Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang menuju ke angkasa.
Keenam adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggallah Mbu`i Bungale seorang diri di tengah hutan. Hatinya sangat sedih, karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya di Kahyangan. Beberapa saat kemudian, Jilumoto keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Mbu`i Bungale.
“Hai, Bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui keadaan sebenarnya.
“Sayapku hilang, Bang! Adik tidak bisa lagi kembali ke Kahyangan,” jawab Mbu`i Bungale.
Mendengar jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu`i Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah dengan Jilumoto. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di bumi. Mereka pun mencari tanah untuk bercocok tanam. Setelah berapa lama mencari, akhirnya sepasang suami-istri itu menemukan sebuah bukit yang terletak tidak jauh dari Mata Air Tupalo. Di atas bukit itulah mereka mendirikan sebuah rumah sederhana dan berladang dengan menanam berbagai macam jenis tanaman yang dapat dimakan. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti`opo atau Bukit Kapas..
Pada suatu hari, Mbu`i Bungali mendapat kiriman Bimelula, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari Kahyangan. Bimelula itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengan sehelai tolu atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah timur yang melintas dan melihat mati air Tupalo tersebut. Begitu melihat air yang jernih dan dingin itu, mereka segera meminumnya karena kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Usai minum, salah seorang di antara mereka melihat ada tudung tergeletak di dekat mata air Tupalo.
“Hai, kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankah itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu.
“Benar, kawan! Itu adalah tudung,” kata seorang pelancong lainnya.
“Aneh, kenapa ada tudung di tengah hutan yang sepi ini?” sahut pelancong yang lainnya dengan heran.
Oleh Karena penasaran, mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud untuk menangkatnya. Namun, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu, tiba-tiba badai dan angin topan sangat dahsyat datang menerjang, kemudian disusul dengan hujan yang sangat deras. Keempat pelancong itu pun berlarian mencari perlindungan agar terhindar dari marabahaya. Untungnya, badai dan angin topan tersebut tidak berlangsung lama, sehingga mereka dapat selamat.
Setelah badai dan hujan berhenti, keempat pelancong itu kembali ke mata air Tupalo. Mereka melihat tudung itu masih terletak pada tempatnya semula. Oleh karena masih penasaran ingin mengetahui benda yang ditutupi tudung itu, mereka pun bermaksud ingin mengangkat tudung itu. Sebelum mengangkatnya, mereka meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar badai dan topan tidak kembali terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika mengangkat tudung itu. Mereka melihat sebuah benda bulat, yang tak lain adalah mustika Bimelula. Mereka pun tertarik dan berkeinginan untuk memiliki mustika itu. Namun begitu mereka akang mengambil mustika Bimelula itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale datang bersama suaminya, Jilumoto.
“Maaf, Tuan-Tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk mengambilnya, karena benda itu milik kami!” pinta Mbu`i Bungale.
“Hei, siapa kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong.
“Saya Mbu`i Bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu,” jawab Mbu`i Bungale dengan tenang.
“Hai, Mbu`i Bungale! Tempat ini adalah milik kami. Jadi, tak seorang pun yang boleh mengambil barang-barang yang ada di sini, termasuk mustika ini!” bentak pemimpin pelancong itu.
“Apa buktinya bahwa tempat ini dan mustika itu milik kalian?” tanya Mbui`i Bungale.
Pemimpin pelancong itu pun menjawab:
“Kalian mau lihat buktinya? Lihatlah sepah pinang di atas tudung itu! Kamilah yang telah memberinya,” ujar pemimpin pelancong.
Mendengar pengakuan para pelancong tersebut, Mbu`i Bungale hanya tersenyum.
“Hai, aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama makhluk di dunia ini. Bukan diberikan kepada orang-orang tamak dan rakus seperti kalian. Tapi, jika memang benar kalian pemilik dan penguasa di tempat ini, perluaslah mata air ini! Keluarkanlah seluruh kemampuan kalian, aku siap untuk menantang kalian!” seru Mbu`i Bungale.
Keempat pelancong itu pun bersedia menerima tantangan Mbu`i Bungale. Si pemimpin pelancong segera membaca mantradan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
“Wei mata air Kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya.
Berkali-kali pemimpin pelancong itu membaca mantranya, namun tak sedikit pun menunjukkan adanya tanda-tanda mata air itu akan meluas dan membesar. Melihat pemimpin mereka sudah mulai kehabisan tenaga, tiga anak buah pelancong tersebut segera membantu. Meski mereka telah menyatukan kekuatan dan kesaktian, namun mata air Tupalo tidak berubah sedikit pun. Lama-kelamaan keempat pelancong pun tersebut kehabisan tenaga. Melihat mereka kelelahan dan bercucuran keringat, Mbu`i Bungale kembali tersenyum.
“Hai, kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu milik kalian! Atau jangan-jangan kalian sudah menyerah!” seru Mbu`i Bungale.
“Diam kau, hai perempuan cerewet! Jangan hanya pandai bicara!” sergah pemimpin pelancong itu balik menantang Mbu`i Bungale. “Jika kamu pemilik mata air ini, buktikan pula kepada kami!”
“Baiklah, Tuan-Tuan! Ketahuilah bahwa Tuhan Maha Tahu mana hambanya yang benar, permintaannya akan dikabulkan!” ujar jawab Mbu`i Bungale dengan penuh keyakinan.
Usai berkata begitu, Mbu`i Bungale segera duduk bersila di samping suaminya seraya bersedekap. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa.
“Woyi, air kehidupan, mata air sakti, mata air yang memiliki berkah. Melebar dan meluaslah wahai mata air para bidadari.... membesarlah....!!!” demikian doa Mbu`i Bungale.
Usai berdoa, Mbu`i Bungale segera mengajak suaminya dan memerintahkan keempat pelancong tersebut untuk naik ke atas pohon yang paling tinggi, karena sebentar lagi kawasan itu akan tenggelam. Doa Mbu`i Bungale pun dikabulkan. Beberapa saat kemudian, perut bumi tiba-tiba bergemuruh, tanah bergetar dan menggelegar. Perlahan-lahan mata air Tupalo melebar dan meluas, kemudian menyemburkan air yang sangat deras. Dalam waktu sekejap, tempat itu tergenang air. Keempat pelancong tersebut takjub melihat keajaiban itu dari atas pohon kapuk.
Semakin lama, genangan air itu semakin tinggi hingga hampir mencapai tempat keempat pelancong yang berada di atas pohon kapuk itu. Mereka pun berteriak-teriak ketakutan.
“Ampun Mbu`i Bungale! Kami mengaku salah. Engkaulah pemilik tempat ini dan seisinya!” teriak pemimpin pelancong itu.
Mbu`i Bungale adalah bidadari yang pemaaf. Dengan segera ia memohon kepada Tuhan agar semburan mata air Tupalo dikembalikan seperti semula, sehingga genangan air itu tidak semakin tinggi dan menenggelamkan keempat pelancong tersebut. Tak berapa lama kemudian, semburan air pada mata air Tupalo kembali seperti semula. Mereka pun turun dari pohon. Mbu`i Bungale segera mengambil tudung dan mustika Bimelula. Ajaibnya, ketika ia meletakkan di atas tangannya, mustika yang menyerupai telur itik itu tiba-tiba menetas dan keluarlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Wajahnya bercahaya bagaikan cahaya bulan. Mbu`i Bungale pun memberinya nama Tolango Hula, diambil dari kata Tilango lo Hulalo yang berarti cahaya bulan. Menurut cerita, Tolango Hula itulah yang kelak menjadi Raja Limboto.
Setelah itu, Mbu`i Bungale dan suaminya segera membawa gadis kecil itu dan mengajak keempat pelancong tersebut ke rumah mereka. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale melihat lima buah benda terapung-apung di tengah danau.
“Hai, benda apa itu?” seru Mbu`i Bungale dengan heran sambil menunjuk ke arah benda tersebut.
Karena penasaran, Mbu`i Bungale segera mengambil kelima benda tersebut.
“Bukankah ini buah jeruk?” pikirnya saat  mengamati buah tersebut.
Setelah mencubit dan mencium buah tersebut, lalu mengamatinya, maka yakinlah Mbu`i Bungale bahwa buah jeruk itu sama seperti yang ada di Kahyangan. Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia bermaksud untuk memeriksa pepohonan yang tumbuh di sekitar danau.
“Kanda, tolong gendong Tolango Hula! Dinda ingin memeriksa pepohonan di sekitar danau ini. Jangan-jangan di antara pepohonan itu ada pohon jeruk yang tumbuh,” ujar Mbu`i Bungale seraya menyerahkan bayinya kepada sang Suami, Jilumoto.
Setelah beberapa saat mencari dan memeriksa, akhirnya Mbu`i Bungale menemukan beberapa pohon jeruk yang sedang berbuah lebat. Untuk memastikan bahwa pohon yang ditemukan itu benar-benar pohon jeruk dari Kahyangan, ia segera memanggil suaminya untuk mengamatinya.
“Kanda, kemarilah sebentar!” seru Mbu`i Bungale.
“Coba perhatikan pohon dan buah jeruk ini! Bukankah buah ini seperti jeruk Kahyangan, Kanda?” ujarnya.
Suaminya pun segera mendekati pohon jeruk itu sambil menggendong bayi mereka. Setelah memegang dan mengamatinya, ia pun yakin bahwa pohon dan buah jeruk itu berasal dari Kahyangan.
“Kamu benar, Dinda! Pohon jeruk ini seperti yang ada di Kahyangan,” kata Jilumoto.
 “Dinda heran! Kenapa ada pohon jeruk Kahyangan tumbuh di sekitar danau ini?” ucap Mbu`i Bungale dengan heran.
Beberapa saat kemudian, Mbu`i Bungale baru menyadari bahwa keberadaan pohon jeruk di sekitar danau itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Untuk mengenang peristiwa yang baru saja terjadi di daerah itu, Mbu`i Bungale dan suaminya menamakan danau itu Bulalo lo limu o tutu, yang artinya danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Lama-kelamaan, masyarakat setempat menyebutnya dengan Bulalo lo Limutu atau lebih dikenal dengan sebutan Danau Limboto.
* * *
Demikian cerita Asal Mula Danau Limboto dari Provinsi Gorontalo, Indonesia. Hingga kini Danau Limboto menjadi salah satu obyek wisata menarik di Gorontalo. Para pengunjung dapat menikmati berbagai kegiatan seperti memancing, lomba berperahu, dan menikmati ikan bakar segar.  Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas dapat dilihat pada keberanian dan kegigihan Mbu`i Bungale mempertahankan hak miliknya dengan menantang keempat orang pelancong untuk memperluas mata air Tupalo. Dalam kehidupan orang Melayu, mempertahankan hak milik sendiri sangatlah dianjurkan sebagaimana dikatakan dalam tunjuk ajar berikut ini:

    apa tanda melayu bertuah,
    hak milik orang ia pelihara
    hak milik diri ia jaga
    hak milik bersama ia bela

Asal Usul Kota Banyuwangi

Asal Usul Kota Banyuwangi


Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Asal Mula Telaga Biru

Asal Mula Telaga Biru

Dibelahan bumi Halmahera Utara tepatnya di wilayah Galela dusun Lisawa, di tengah ketenangan idup dan jumlah penduduk yang masih jarang (hanya terdiri dari beberapa rumah atau dadaru), penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa gerangan yang membuat fenomena ini terjadi?


Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.