About

MTS YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS. YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS. YASTI 1 Cisaat Kabupaten Sukabumi

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

SAS Kls 8

SAS Kls 8
Klik Disini

UJIAN MADRASAH 2026

UJIAN MADRASAH 2026
LINK UJIAN MADRASAH

TO Ujian MAdrasah

TO Ujian MAdrasah
Ayo klik disini

ZONA BELAJAR YASTI

ASAS KELAS 7

ASAS KELAS 7
klik untuk membuka

Rabu, 12 April 2017

Tentang Kita

Tentang Kita

Judul Cerpen Tentang Kita
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja


Di sudut sebuah gedung tua itu, tersusun rapi bangku-bangku panjang ditemani deretan kursi kayu bercat kusam. Bukan karena kusam dimakan usia. Melainkan, model bangunannya yang dirancang khusus menyerupai bangunan-bangunan tempo Belanda jaman dulu. Begitu besar dan luas. Rak-rak buku memenuhi bagian dalam gedung tua ini. Di luarnya begitu nyaman. Pohon-pohon tumbuh menjulang tinggi, membuat lingkungan luar gedung ini terasa begitu nyaman, adem. Di antara dua pohon besar terdapat kumpulan kursi melingkar beserta sebuah meja kayu bundar di tengahnya. Cukup nyaman memang. Tempat favorit yang selalu ia kunjungi. Tempatnya merasakan sebuah kenyamanan.
Hampir setiap pulang sekolah ia tidak pernah absen untuk mengunjungi tempat ini. Walau hanya duduk sebentar menghabiskan waktu senja. Seperti halnya sekarang, sepulang sekolah ia pergi ke tempat ini. Ia duduk di antara kursi di bawah pohon rindang. Sendiri. Hanya seorang diri. Inilah hal yang selalu ia suka. Ia mengeluarkan sebuah buku. Bukan buku pelajaran, bukan pula buku novel atau kumpulan sastra lainnya. Melainkan sebuah buku mungil yang ia temukan tanpa sengaja di sebuah meja bagian dalam gedung tua itu. Sudah seminggu buku ini berada di tangannya. Entah kenapa, ia masih terus menyimpan buku ini. Sebuah buku kecil berwarna coklat bersampulkan sebuah coretan-coretan indah. Tapi, ia hanya sekedar menyimpan dan tak akan pernah berani tuk membukanya, apalagi membaca isi buku itu.
Kini, ia mulai merasa ada suatu hal yang akan mengganggunya. Dengan segera ia memasukan buku itu ke dalam ranselnya. Dari pintu masuk gerbang gedung ini, muncul Seorang laki-laki sebaya yang berusaha untuk mendekat dan bahkan berani untuk duduk di sampingnya. Perlahan laki-laki itu mencoba tuk memulai pembicaraan.
“Hai.. siapa kamu?”, pertanyaan yang kurang beradab tuk ditanyakan. “Siapa? Kamu orang waras kan? Datang dengan tiba-tiba, hanya untuk menanyakan soal itu?”, jawabnya kesal. “Dasar perempuan aneh, gitu ajah kok marah.”, jawabnya seakan tidak punya salah. “Eh, kalo kamu dateng ke sini hanya untuk merusak segala kenyamanku mending kamu pergi!”, jawabnya dengan nada tinggi. “Emang tempat ini milikmu? Ini tempat umum nyonya, kamu tak pantas tuk menguasai tempat ini”, jawabnya dengan santai. “Tempat ini memang bukan miliku, tapi tempat ini…”, karena kesal ia tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia pergi dengan langkah kaki yang tidak biasa, begitu cepat. Selain itu ia masih menyimpan seribu rasa kesalnya.
Esoknya di sekolah
Ia mendengar kabar, bahwa di kelasnya akan kedatangan seorang murid baru. Dan kabar buruknya, murid baru itu laki-laki. Entah kenapa ia begitu yakin akan firasatnya. Sebuah firasat bahwa murid baru itu adalah laki-laki yang ia temui sore tadi di gedung tua.
Dan ternyata firasatnya memang benar, murid baru itu laki-laki nyebelin yang tadi sore ia temui. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” ia membuka perekanalan dengan salam. “Yah, perkenalkan nama saya Rafa Al-Hafidz Suryadiningrat. Saya biasa dan saya lebih suka dipanggil Ray.”, ungkapnya dengan penuh percaya diri.
Suatu hal yang menjengkelkan kembali terjadi. Sang wali kelas memberi tempat duduk si anak laki laki itu dengannya. “Oh iyah Nak, kamu duduk di sebelah Zahra yah..” “Siapa itu bu?” tanyanya dengan penuh heran. “Dia yang duduk di bangku kedua itu” jawab sang guru sambil menunjuk ke arah Zahra.
“Hai nyonya, kita kembali dipersatukan lagi. Ternyata nama kamu bagus juga. Zahra… Siapa nama lengkapmu?”, tanyanya kepo. “Penting gitu kamu nanya nama lengkapku?”, jawabnya masih dengan muka kesal.
Hari demi hari kian berganti. Mereka bagaikan air dan minyak. Tak pernah bersatu. Bahkan mereka sangat jarang sekali berinteraksi. Hingga ada suatu hal yang membuat semuanya berubah. Suatu hal yang sungguh diluar pemikiran-pemikiran mereka berdua. Hari ini Zahra merasa sangat sedih. Sedih di dalam segalanya. Sepulang dari sekolah ia sesegera mungkin pergi ke tempat favoritnya. Kali ini ia mengambil tempat di dalam sebuah gedung tua itu. Karena akhir-akhir ini cuaca sedang tak bersahabat. Ia mengambil posisi duduk yang memang sepi. Inilah yang ia suka, menyendiri. Menumpahkan segala beban hidupnya. Sayup-sayup terdengar langkah kaki. Zahra langsung memperhatikan sekitar, berusaha tuk menyembunyikan semuanya. Berusaha agar tak ada orang yang tau akan hal yang sedang dialaminya. Dari balik rak buku, tak jauh dari tempat Zahra menyendiri, berdiri seorang anak laki-laki tengah memperhatikannya. Perlahan ia mencoba memberanikan diri tuk menghampiri Zahra.
“Hai Ra, akhir-akhir ini kamu beda sih. Jauh beda loh. Walaupun kita tak pernah berinteraksi, aku sungguh merasakan perubahanmu. Tapi kamu hebat. Kamu bisa menutupi semua itu dengan tawamu yang mampu menghibur. Padahal aku yakin, kamu pun sedang membutuhkan hiburan itu. Tapi kamu selalu mencoba dan terus mencoba menutupi semuanya. Sakit memang, Tapi kamu mampu melakukan itu. Kamu memang perempuan yang kuat…”, ucapnya lirih. ”Ngapain kamu di sini? Penting gitu? Sudahlah, menjauh dariku kamu nggak perlu sok tau urusan ini. aku lagi ingin sendiri.”, jawabnya terbawa emosi. “Bukannya aku sok tau atau apalah.. Tapi, kamu nggak boleh terus-terusan kaya gini. Kamu bisa tertekan, depresi.”, jawabnya dengan penuh perhatian. “Cukup Ray. Nggak usah banyak bicara. Aku lagi ingin sendiri.”, hentaknya. “Yah, aku minta maaf. Tapi aku…”, Ucap Ray tak melanjutkan kata-katanya. “Apa perlu aku ngomong sekali lagi??”, Dengan nada yang tinggi. “Yah okeh, aku pergi sekarang. Menahan tangis hanya akan membuat dirimu semakin tertekan. Jadi luapkan semuanya. Nanti, kalau suasana haimu sudah sedikit tenang. Kamu bisa bercerita kepada orang yang tepat. Yang tentunya menurutmu. Baik baik di sini, aku pulang duluan.” langkah kakinya semakin menjauh.
Zahra kembali mengingat kata-kata yang telah Ray ucapkan padanya. Ternyata Ray yang nyebelin bisa bersikap sungguh dewasa seperti itu. Bahkan Ray mengerti betul apa yang tengah Zahra rasakan. Dan semua yang Ray ungkapkan semuanya benar. Beribu pertanyaan pun menari-nari diangan Zahra. Bagaimana mungkin tidak? Ray, seseorang yang baru ia kenal bisa tau semua kebiasaan yang ia lakukan, sampai hal kecil pun Ray tau. Sejenak Zahra pun berpikir, ternyata Ray yang selama ini ia anggap sosok yang nyebelin seketika berubah menjadi pengertian.
Sejak kejadian itu, interkasi antar keduanya menjadi lebih sering. Bahkan keduanya pun mulai dekat. Dekat dalam hal persahabatan. Kejadian di gedung tua itu merupakan awal mula Zahra mengenal sosok Ray yang sesungguhnya. Sejak saat itu, mereka saling berbagi cerita. Sebuah cerita yang di dalamnya mampu menghasilkan solusi. Dan mampu menjadikannya menjadi jauh lebih baik. Gedung tua itu merupakan saksi persahabatan mereka terjalin, seutuhnya.
Hingga suatu saat Ray mengajaknya menuju gedung tua itu. Akan ada hal yang sepertinya penting untuk dibicarakan bersama. Sebuah cerita yang membutuhkan sebuah solusi yang tepat. Ray pun memulai pembicaraan.
“Ra, gimana sih rasanya saat kita kehilangan benda yang amat sangat berharga?” tanya Ray. “Yang pasti, ada rasa nyesel. Tapi selebihnya aku tak dapat mengungkapkannya lewat kata-kata. Sepertinya kamu telah kehilangan sesuatu.”, jawabnya. “Ya, aku memang telah kehilangan sesuatu. Sudah lama memang. Entah, di manakah keberadaannya saat ini. Apakah dia sudah menghilang? Tapi aku sangat berharap benda itu masih bisa kembali di genggaman tanganku”, jawabnya dengan penuh keyakinan. “Seberapa pentingnyakah buku itu?”, tanya Zahra meyakinkan. “Buku itu amat sungguh berharga Ra…”, tiba-tiba air mata Ray jatuh.
Ray ingat akan benda yang hilangnya itu. Sebuah benda yang memang sunnguh berarti baginya. Sebuah buku coklat bersampulkan coretan-coretan indah karyanya sendiri. Sebuah buku pemberian dari sang Ayah. Sebuah buku tentang perjalannya. Sebuah buku tentang perjuangannya. Sebuah buku kecil yang begitu tebal. Sebuah buku yang hampir seluruhnya sudah ternodai oleh coretan-coretan hidupnya. Hanya tinggal beberapa lembar untuk menggantinya dengan buku baru. Tapi pada kenyataannya, buku itu tidak hilang. Hanya saja buku itu tengah berada di genggaman tangan orang lain. Seseorang yang berada di sampingnya saat ini. Zahra. Buku itu telah lama dipegang oleh Zahra. Sengaja ia menyimpannya. Karena memang ia suka akan desain sampul buku itu. Sampai kapan pun ia tak akan pernah berani tuk membuka buku itu walaupun hanya di lembar pertama. Kini, Zahra telah mengetahui pemiliknya. Ia akan segera mengembalikannya, tentunya menunggu waktu yang tepat. Hanya saja pemilik buku itu tak mengetahui ternyata keberadaan bukunya ada di tangan seseorang yang di sampingnya saat ini.
“Kenapa kamu malah nangis gitu, usap air matamu. Malu tau diliat banyak orang. Masa cowok nangis, hanya karena kehilangan benda? Nggak lucu lah..”, ucapnya seraya menghibur sambil menyerahkan sebuah tisu. “Tapi.. buku itu sangat berharga Raa… ”, ucapnya begitu lirih. “Iya, aku ngerti. Sunnguh, aku pernah liat buku itu. Minggu lalu. Hanya sajaa…”, sengaja Zahra tak melanjutkan kata-katanya. “Sungguh? Bantu aku tuk kembali mendapatkan buku itu”, ia bermohon kepada Zahra. “Aku pasti akan membantumu, aku akan mencoba mengingatnya kembali. Tentang di mana terakhir kali aku liat”, jawabnya.
Ya, kini Zahra tinggal cari waktu yang tepat tuk mengembalikan buku itu. Sesampainya di rumah, ia mencari buku itu. Dan, buku itu masih tersimpan rapi di rak bukunya. Tiba-tiba saat hendak mengambil buku itu sebuah kertas kecil jatuh di antara selipan buku itu. Ia mencoba membukanya “Teruntuk, anak ayah tersayang RAFA AL-HAFIDZ 8 SEPTEMBER 1999.” Sebuah kertas kecil. Ternyata buku itu hadiah ulang tahun dari ayahnya. Benar saja, dia selalu menganggapnya istimewa. Tiba-tiba pandangan mata Zahra tertuju kesebuah kalender. 7 september. Itu artinya besok. Besok Ray akan berulang tahun. Ia akan memberikan buku itu kepadanya esok hari. Tentunya dengan cara yang tidak biasa.
Esok harinya di sekolah
Mendatangi Zahra, “Ra, gimana kamu udah inget akan buku itu?”. “Penting gitu buatku. Tau nggak gara-gara aku kepikiran buku kamu itu yang katanya ISTIMEWA. Aku jadi ceroboh. Fatal tau nggak. Berantakan!! marah Zahra. “Hahahha, nggak lucu tau nggak” jawab Ray. “AKU SERIUS!!” jawabnya dengan lantang. Zahra langsung pergi meninggalkan Ray.
Seketika itu juga Zahra tak berinteraksi sedikitpun dengan Ray. Walaupun Ray mencoba dan terus mencoba untuk minta maaf, tetapi percuma. Zahra tak memberi respon. Hari itu Zahra benar-benar ingin membuat Ray marah. Nampaknya, taktik Zahra berhasil. Ia berhasil membuatnya kesal. Ia yakin, disaat seperti itu Ray akan pergi ke gedung tua itu. Dan Zahra akan mengembalikan buku itu dimana ia menemukan buku itu.
Pulang sekolah
Ia bergegas menuju gedung tua itu. Ia yakin, pasti Ray akan pergi ketempat itu juga. Benar saja sesampainya di sana Ray tengah menangis, di sudut sebuah gedung itu. Seorang diri. Zahra pun muncul dari belakang seraya mengucapkan sesuatu. “Menahan tangis hanya akan membuat dirimu semakin tertekan. Jadi luapkan semuanya. Nanti, kalau suasana haimu sudah sedikit tenang. Kau bisa bercerita kepada orang yang tepat”, Ray langsung menengok ke belakang, “Zahraaa..”, isaknya. “Luapkan semua tangismu, kawan..” Zahra berusaha mendekat dan duduk di samping Ray. Sejenak ia meluapkan semua sesak yang megganjal hatinya. Ray pun mengusap air matanya.
“Aku ingin membicarakan suatu hal”, ucap Zahra dengan tatapan yang serius. “Apa itu”, tanya Ray. Zahra mengeluarkan bungkusan kecil dari tasnya dan langsung memberinya kepada Ray. “Maaf, aku belum bisa memberi yang isimewa dihari istimewamu. Sengaja aku pilih tempat ini. Di tempat istimewa ini aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang sangat istimewa bagimu. Maaf karena aku baru bisa memberinya sekarang.”, ucapnya begitu lembut. “Selamat ulang tahun sobatku yang nyebelin, maaf atas perbuatanku sewaktu di sekolah. Sengaja aku lakukan itu. Karena aku ingin memancingmu tuk datang ke gedung ini tempat yang istimewa bagi kita. Saksi bisu perjalanan persahabatan kita”, lanjutnya. Ray langsung menerima pemberian itu dan langsung membukanya. “Jadii… selama ini…”, ungkapnya dengan sisa-sisa isak tangis. “Buku ini tidak hilang, seminggu sebelum awal pertemuan kita, aku menemukan buku ini di tempat ini. Tepat di tempat ini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku tak berani walau hanya membuka lembaran pertama buku ini. Apalagi sampai tega tuk membacanya”, jawabnya dengan penuh kejujuran. “Lantas, buat apa kamu menyimpan buku ini terus-terusan tanpa mengembalikan kepada pemiliknya?”, tanya Ray heran. “Bagaimana mungkin aku mengembalikan kepada pemiliknya, sedangkan di buku ini tak sedikitpun tertuliskan identitasnya. Aku baru tahu ini milikmu, kemarin. Itu pun kerena kamu meceritakan kepadaku. Andai saja kamu tak pernah menceritakan itu, buku itu tak akan sampai di tanganmu saat ini”, tambanya. “Okeh, makasih semuanya sobatku.” Jawab Ray. Air matanya kembali mengalir, tapi ini adalah sebuah air mata kebahagiaan. Bahagia karena ia telah menemukan kembali buku itu. Buku yang selalu dianggapnya sangat istimewa. Kembali berada di tangannya dihari yang istimewa. Sama halnya dengan seseorang yang telah menyimpannya. Seseorang yang di sampingnya. Seseorang yang telah dianggapnya istimewa. Zahra.
“Terimakasih atas semuanya Raa, Gedung tua ini akan tetap menjadi saksi eratnya persahabatan kita. Dari awal kita bertemu, awal kita saling menyapa, hingga hari ini, esok dan selamanya..”, Ucap Ray dari hati yang paling dalam.

Harapan Mulia Si Penjual Jagung Rebus

Harapan Mulia Si Penjual Jagung Rebus

Judul Cerpen Harapan Mulia Si Penjual Jagung Rebus
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih


Ada sebuah keluarga kecil di desa terpencil… terdiri dari kakek nenek dan seorang anak perempuan bernama Nifa… mereka sangat kekurangan sehingga harus berjualan jagung rebus… biasanya nenek dan kakek yang menjualnya, tapi Nifa punya Tante yang sangat baik serta akhirnya mereka tinggal di rumah tante
Tapi sekarang sang nenek sedang sakit… selama tujuh hari mereka tidak berjualan karena sang kakek juga harus menjaga sang nenek, Nifa sangat sedih melihat kakek dan neneknya kesusahan serta Nifa harus memutuskan untuk berjualan sendiri…
Nifa membuat jagung sendiri dan menjualnya, untuk kali ini Nifa belum ada modal maupun kembalian tapi dia terpaksa melakukannya… nenek kakeknya kesulitan dan tantenya sedang bekerja jadi tak ada yang bisa membantunya
Nifa pun mulai berjualan… ketika ia berjualan ada seorang pemuda yang ingin membeli jagung rebus… “Berapa harganya dik?” Tanya pemuda itu “hanya 3000 saja… kakak mau beli?” “Beli semuanya saja, jadi berapa?” “Semuanya ada 10 berarti jadi 30.000!” Nifa menjelaskan… pemuda itu pun memberikan uang 50.000 “Saya belum ada kembalian dan saya baru berjualan” “kembaliannya ambil saja untuk kamu ya” kata pemuda itu… “Terimakasih!” Dia sangat bersyukur kepada tuhan… tapi saat perjalanan pulang ia tertabrak oleh sebuah mobil dan Nifa terpental lumayan jauh dan pelakunya tak menghiraukan… Kemudian Tantenya yang habis pulang kerja melihat kejadian itu dan kaget ketika melihat Nifa terluka, tantenya segera memberitahukan kepada kakek dan nenek… mereka sangat sedih mendengarnya…
Lalu Nifa masuk rumah sakit… setelah 7 menit kemudian ia sadar dan ada pihak polisi dan dokter di hadapannya “yang menabraknya adalah buron yang kami cari selama ini dan kondisi Nifa sudah sedikit membaik!” Jelas polisi dan dokter… malam harinya Nifa merasa sakit lagi yang lebih parah… seluruh keluarga, dokter dan polisi segera melihatnya, kata dokter ia sakit lagi dan suhu tubuhnya naik… tapi Nifa meminta agar penjahat itu diringankan hukumannya
Pada malamnya Nifa bangun dan menulis surat permohonan terakhirnya karena dia tahu hidupnya tak akan lama… paginya Nifa meninggal dunia… mereka tambah sedih dan tantenya menemukan surat di bawah bantal… surat itu berisi permohonan Nifa “Maaf semua, aku mohon maafkan aku tapi aku ingin minta sesuatu dari kalian… janganlah hukum penjahat itu seberat-beratnya karena mungkin dengan kehendak tuhan ia dapat bertobat… aku tahu aku akan seperti ini jadi aku menulis surat permohonan ini… sekali lagi maaf kuucapkan, Selamat tinggal”
“NIFA..!!!” ucap sang nenek… semua berduka atas kematian Nifa… akhirnya jenazah Nifa dimakamkan dan penjahat itu diringankan hukumannya, dan ternyata benar penjahat itu bertaubat.
Cerpen Karangan: Master Ghiyas
Cerita Harapan Mulia Si Penjual Jagung Rebus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Takkan Kembali

Takkan Kembali

Judul Cerpen Takkan Kembali
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 12 April 2017
Hari sudah mulai gelap namun Pras belum juga datang. Aku menunggu sudah hampir satu jam di halte. Aku bergegas pulang karena hari sudah mulai gelap, Aku menghubungi Pras kalau aku pulang dia aku suruh datang langsung ke rumah.
“Raina.. tunggu”
“Hei Pras kok lama banget sih”
“Maaf tadi busnya mogok”
“Hmmm, ya udah ayo ke rumah udah gelap ni.”
“Iya ayo.”
Sampai di rumah Pras disambut dengan ibuku. Pras adalah temen SD aku, aku sudah anggap Pras seperti kakak aku sendiri begitu juga Pras.
“Anak-anak ayo makan dulu, Ibu sudah menyiapkan makanan.”
“Iya Bu.”
“Pras mana kak?”
“Kayanya lagi di kamar bu.”
“Cepat panggil suruh makan dulu terus baru istirahat.”
“Pras ayo makan”
“Iya bentar.”
“Cepat ya, aku tunggu di ruang makan.”
“Iya rain.”
“Maaf tante saya lama, barusan mandi dulu.”
“Biasanya juga gak mandi kok.”
“Kok kamu tahu rain”
“Tahu lah.. hahaha.”
“Udah ayo makan dulu.”
Pras udah tidur belum ya, aku nggak bisa tidur. Hah kenapa juga tadi siang aku tidur alhasil aku susah tidur. Aku ke kamar Pras aja ah, eh tapi dia pasti capek tadi siang kan di perjalanan. Ya udah aku keluar depan rumah aja.
“Eh Pras kok kamu di sini, kamu nggak tidur.”
“Aku tadi tidur di Bus sekarang susah tidur, kamu sendiri mau kemana?”
“Aku mau di luar, aku juga nggak bisa tidur, tadi siang aku tidur lama banget jadi belum ngantuk deh.”
“Rain besok ada acara ke mana nggak?”
“Kayanya si nggak ada, kenapa?”
“Jalan-jalan yuk rain.”
“Jalan-jalan ke mana.”
“Ke mana aja, ayo mau nggak?”
“Mau lah, hmmm kak ngomong-ngomong gimana hubungan kamu sama laras.”
“Nggak gimana-gimana rain, aku sudah lama nggak sama dia”
“Udah nggak sama dia, Kenapa?”
“Udah nggak cocok aja.”
“Dasar cowok enak banget bilang gitu.”
“Nggak gitu juga kok.”
“Tapi kebanyakan gitu.. wkwkwk.”
“Kalau kamu sekarang sama siapa”
“Hoamm ngantuk, aku tidur dulu ya Pras.”
Pagi Pras bangun bangun. Eh lha di mana Pras kok udah nggak ada di kamarnya. Eh foto siapa di kasurnya lihat ah. Kok Pras…
“Raina”
“Eh iya”
“Cepat rain ayo jalan-jalan jangan tidur terus.”
“Kamu kira aku apa tidur terus”
“udaranya segar banget ya rain”
“Iya”
“Kamu kenapa?”
“Aku laper”
“Hih kamu ini”
“Eh kok tiba-tiba hujan ayo rain lari cari tempat teduh”
Ih kenapa aku jadi gini Pras itu kakak aku hah jangan gini rain inget rainan Pras kakak kamu.
“Kamu kenapa rain, kamu kedinginan rain.”
“Nggak kak, aku pingin hujan-hujanan, ayo Pras pulang hujan-hujanan.”
“Nanti kamu sakit Rain.”
“Nggak Pras, ayoo”
“Ayoo, yang sampai rumah dulu menang.”
“Ih Pras kamu curang masa lari dulu.’
“Pras tunggu.. Aaa!”
“Raina kamu nggak apa-apa.”
“Pras gimana si, liat sakit nih.”
“Iya-iya pesek, ayo bangun”
“Ah nggak bisa kaki aku kayanya terkilir deh Pras.”
“Ya udah ayo sini naik ke punggung aku.”
“Emang kamu kuat.”
“Udah ayo sini.”
“Uh ternyata berat banget.”
“Hih Pras.”
“Beneran kamu berat nih rain.. hehe.”
Jantung aku kenapa berdetak kencang seperti ini. Pras hanya kakak aku dan sempat menjadi masa laluku jangan biarkan yang dulu datang kembali.
“Hah sampai, rain turun rain.”
“Eh iya heheh.”
“Ayo sini aku bantu jalan, Tante?”
“Ibu aku lagi ada arisan keluarga Pras.”
“Ya udah sini aku obtain, tempat obatnya di mana rain?’
“Di sana Pras.”
“Bentar yah tahan sedikit, sakit sebentar tapi perihnya lama.”
“Ih Pras mah gitu.”
“Udah selesai.”
“Makasih Pras.”
“Rain aku boleh tanya nggak sama kamu”
“Mau tanya apa Pras”
“Tante tahu nggak kalau kita dulu sudah sempat pacaran.”
“Kenapa Pras, kok kamu tanya gitu.”
“Kalau tante tahu sebenarnya aku nggak enak nginep di sini.”
“Nggak tahu kok Pras, aku belum sempat cerita ke Ibu aku.”
“Apa kamu masih punya perasaan ke aku rain?”
“Ah Pras aku laper bisa bikinin aku mie nggak.”
“Eh iya sampai lupa kamu kan jatuh gara-gara kelaparan, iya bentar yah aku bikinin”
Huh kenapa juga Pras tanya kaya gitu ke aku, aku kan bingung mau jawab apa.
Sudah sebulan Pras tinggal di rumahku dan hari ini hari Pras balik ke Bandung. Rasanya berat aku masih ingin bersama Pras tapi aku tahu aku hanya teman dan masa lalunya jadi aku nggak punya hak untuk mencegah dia pulang ke Bandung.
“Rain aku harap bulan besok kita bisa ketemu dengan senyum bahagia.”
“Iya Pras, kamu di jalan hati-hati ya kalau sudah sampai kabarin ya”
“Siap bos, besok gentian kamu liburan di tempat aku ya Rain, aku tunggu kamu datang.”
“Hmmm gimana ya, siap deh”
“Ya udah aku pamit ya, jaga diri kamu baik-baik meski udah nggak sama aku lagi.”
Sampai di rumah aku bingung kenapa Pras ngomong gitu ke aku ya, eh jangan-jangan ah nggak mungkin Pras mau mati. Yah besok sudah masuk kuliah.
Hah capek banget ada acara macet segala di jalan.
“Kakak ada undangan buat kakak di ruang tamu.”
“Undangan apa Bu.”
“Kayanya undangan pernikahan deh ka.”
“Pernikahan siapa Bu”
“Belum tahu kak, Ibu belum sempet baca.”
“Kenapa juga dapet undangan pernikahan aku aja masih jomblo.”
“Di mana Bu.”
“Samping majalah.”
“Oh ini.”
“Undangan siapa kak”
“Kak..”
Ternyata maksud ucapan Pras sebulan yang lalu ini, aku harus kuat air mataku nggak boleh mengalir. Ingat pesan Pras aku harus bahagia.
Hati aku serasa dirobek-robek seseorang yang aku cinta yang aku harapkan masih bisa kembali ternyata hanya mimpiku saja. Sejak itu aku nggak bertemu Pras dan berharap untuk tidak ketemu Pras karena itu sangat menyakitkan untuk aku, meskipun mungkin Cuma aku yang masih ada perasaan untuknya. Aku berusaha merelakannya kalau dia bahagia.

Berteman Sepi Menjadikanku Kuat Akan Keterpurukan

Berteman Sepi Menjadikanku Kuat Akan Keterpurukan

Judul Cerpen Berteman Sepi Menjadikanku Kuat Akan Keterpurukan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga


Namaku Yanto. Aku tinggal di jawa tengah, sekarang umurku sudah 73 tahun. Kisah hidupku awalnya terlihat pilu namun semenjak aku mempunyai anak, hidupku sangatlah indah. Aku bersyukur memiliki putri cantik jelita.
Diriku juga sebenarnya adalah anak yatim piatu yang sejak awal masih kecil sudah tidak bisa merasakan hangatnya kasih sayang orangtua. Kehidupan orangtuaku dulunya sangat miskin, sehingga terpaksa membuangku di rumah yatim piatu. Mengingat cerita itu membuatku sedih.
Pada awalnya diriku seperti kebanyakan lajang-lajang lainnya. Pada umur 18 tahun, aku pernah mengencani seorang wanita cantik yang bekerja sebagai spg kosmetik yang bekerja di daerah kota metropolitan D.K.I jakarta. Usia hubungan kami cukup panjang, hingga sampai 4 tahun dalam masa pacaran.
Menjalani masa pacaran selama 4 tahun ternyata telah membuktikan bahwa wanita yang kucintai ternyata tidak layak untuk mendampingiku di masa tua nanti. Melihatnya bersama lelaki lain membuat hatiku hancur, apalagi melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Setelah berpisah dengannya cukup lama hingga menjelang umurku berkepala 3 alias sudah 30an. Selama itu pula aku selalu mengurung diriku untuk tidak terjebak dengan kisah percintaan lagi. Menjalani hari-hari yang begitu pasif rasanya membuatku selalu berpikir ternyata kesepian lebih menakutkan daripada kematian.
Suatu pagi ketika weekend seperti kegiatan biasaku untuk pergi lari pagi disaat itulah momen pengubah hidupku sepertinya telah tertulis dalam nasibku. Melihat sepasang suami istri sedang berjalan pagi bersama bayi mungilnya membuat mereka tampak sangat bahagia.
Membuatku bersemangat akhirnya kuputuskan untuk mengangkat seorang anak dari rumah yatim piatu. Dan akhirnya di hari itu juga aku kembali bereuni dengan suster-suster yang menjagaku sejak kecil. Sudah 20 tahun lamanya sejak aku keluar dari rumah yatim piatu itu.
Melihatku kembali membuat raut wajah suster-suster itu sangat bahagia. Setelah berbicara cukup lama kemudian aku pun ingin melihat anak-anak yang ada dalam rumah ini. Setelah berjalan mengitari seluruh ruangan yang ada, akhirnya aku berhenti di suatu ruangan yang akan mempertemukan aku dengan calon buah hatiku.
Mendengar cerita suster yang merawatnya air mata ini juga menetes. Bagaimana tidak, betapa sedihnya melihat kisah hidupnya sama seperti kisah hidupku, sejak bayi ia telah dibuang oleh orangtuanya. Hatiku tergerak untuk membawanya sebagai anakku, sangat sesuai dengan harapanku dengan jenis kelamin perempuan dan masih dibawah umur 5 tahun.
Parasnya cantik, kulitnya putih dan berlesung pipi, ia kunamakan christy. Rumahku yang sederhana sekarang sudah tidak sepi berkat kehadirannya. Meski dalam darahnya tidak mengalir darahku, namun bagiku ia adalah jantungku. Tidak ada yang lebih spesial sejak kehadirannya.
Sebelum tidurnya selalu ku bermain dengannya hingga kecapekan dan tertidur. Melihat ia tidur dengan wajah yang imut membuatku selalu mencium pipi dan keningnya sebelum diriku juga beranjak istirahat.
Hari-hari yang kulewati begitu bahagia bersama putri kecilku. Sepulang kerja ku selalu bermain dengannya dan di hari libur selalu kubawa ia jalan-jalan. Betapa bahagianya diriku ketika diriku iseng bertanya kepadanya.
“christy sedih tidak kalau papa meninggal?”
“meninggal itu apa pa?”
“disaat papa meninggal, christy tidak ada teman bermain lagi” sembari tersenyum
Christy merengek pelan “kenapa papa harus meninggal?”
“setiap manusia itu harus lahir dan meninggal sayang, itulah kehidupan kita.”
“aku tidak mau, aku ingin setiap hari bermain dengan papa” jawabnya terisak
Hari-hari berjalan dengan indahnya bersama putri manjaku. Hingga akhirnya ia berumur 23 tahun. Meski ia sudah berumur dewasa, namun perlakuanku kepadanya tetap mencerminkan ia adalah putri kecilku.
Berusia matang membuatnya sudah membuat pilihan untuk menikah dengan seorang pengusaha muda asal sumatra. Hal inilah yang membuatku takut untuk menghadapi kesendirian lagi.
Hari dimana ia menikah membuatku sedih bercampur bahagia, dimana ia akan melangsungkan pernikahan di tanggal 11 agustus dimana itu adalah tanggal kelahiranku. Ketika sedang melakukan jamuan teh acara pernikahan, mataku berkaca-kaca ketika mengkalungkan hadiah pernikahan untuk putri kecilku. Air mata harus tertahan tak boleh jatuh untuk menandakan betapa sayangnya diriku padanya.
Betapa bahagianya melihat ia memakai gaun pernikahan yang elegant ditambah di saat ia tersenyum selalu membuat hatiku merasakan kebahagiaan yang tidak bisa dirangkai dengan kata-kata.
Sudah tiba saatnya ia melangkah keluar dari rumah kecilku dan merakit sebuah keluarga kecil dengan lelaki idamannya. Meski sesekali ia menelepon diriku dari kejauhan, tapi sangat tidak bisa menggantikan waktuku kala bermain bersamanya. Kehidupanku telah kembali seperti semula, berteman sepi dengan waktu.
Meski tidak takut akan pengeluaran yang ditanggung penuh oleh anakku. Tapi yang kubutuhkan adalah senyum manjanya ketika ia kugendong bermain di taman. Melihatnya bahagia bersama pasangannya sudah cukup untukku.

Benci Berujung Pelaminan

Benci Berujung Pelaminan

Judul Cerpen Benci Berujung Pelaminan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta


Malam itu dalam sebuah kamar yang bersahaja nampak tersemat sebuah cerita dari penghuninya dimasa lalu, hingga sekarang ia hidup bersama mengarungi khalayak hati sampai badai sempat menerjang seorang lelaki yang dulu begitu dibencinya oleh seorang wanita,
“Entah apa yang ada dalam benak istriku saat itu, ia begitu membenciku seakan tidak ada sedikitpun rasa hanya sekedar untuk berbicara sejenak di sini bersamaku.” ujar seorang Asad Annazar dalam hatinya sambil tersenyum meradang dalam hati.
Tidak lama setelah itu Fina yang kini telah menjadi istrinya datang, sontak ia merasa aneh melihat suaminya tersenyum tanpa sebab, ia terpaku nampak jengkel dan memaksa suaminya untuk segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,
“Senyum kamu itu menyebalkan Bi, bolehkah Umi mengetahui apa yang terdapat dalam benak fikiran Abi sekarang? Abi pun tidak sedang memikirkan wanita lain kan?.”
Fina berujar dengan nada sensitifnya yang membuat suaminya terkaget namun kembali tersenyum.
“Jangan berbicara seperti itu tadi Abi hanya teringat candaan teman-teman saat di kantor, mereka kalau sedang bercanda seperti tidak lupa waktu dan Abi sangat terhibur.” Ia menjawab sembari bergelut nada bicaranya,
“Tidak, ceritakan yang sebenarnya Bi, sungguh Umi tahu ada hal yang sedang disembunyikan.”
Naluri seorang peremupan tentang kepekaan itu memang tidak jarang terjadi, Hingga Asad menceritakan semua yang dialaminya kala itu, mungkin sampai detik ini ia masih belum menyangka, seorang wanita berparas cantik seraya tutur katanya begitu lembut penggugah hati manusia, nelangsa telah lama ia kagumi namun malah kebencian yang ia dapati dari seorang istri nampak lalu tidak menghiraukan kehadiranya.
Sebenarnya ia merasa sangat sedih, tapi entah mengapa hatinya begitu yakin tentang hadirnya sosok wanita itu kelak yang akan mengisi hari-harinya seraya sekarang. Masih juga teringat pada lemai pola fikir seorang lelaki saat ia dan keluarga hendak bersilaturahmi ke rumahnya, begitu baik hubungan keluarga mereka saat itu.
“Sampai hati Umi membenciku saat pertemuan itu, sungguh Abi pun tak mengetahui tentang kunjungan kami berujung perjodohan kita dimasa lalu yang membawa hati Umi seakan retak tapi tidak dengan hati ini, justru hati ini menghendaki dan begitu antusias, bukankah Umi telah mengetahui sejak di bangku kuliah rasa ini telah muncul bahkan tidak peduli ketika Umi berkata telah mempunyai calon pendamping hidup”. keluh kesah seorang lelaki yang kembali mengingatkan istrinya tentang kesedihanya bersama hari-hari yang terus berjalan.
“Hmm.. Jangan seperti itu Bi, sejujurnya waktu itu Umi memang sedang dekat dengan hadirnya seorang lelaki dan Umi merasa sangat terganggu dengan setiap pandangan Abi acapkali di kelas, kau itu menyebalkan Bi apalagi kiriman surat yang kau taruh di dalam sepatuku saat praktik Teknologi Informasi di Laboratorium Komputer, hmmm.. sudah tulisanya jelek, cara ngasihnya aneh, meskipun isi tulisanya sempat membuat Umi merinding, tapi entahlah sejak kejadian itu Umi malah semakin benci”. sambung Fina dengan nada manja dan menyembunyikan rasa kesalnya.
“Maafkan Abi ya mi, Abi khilaf,” tuturnya kembali.
Hingga waktu berjalan tentang kehendak indah Tuhan mengarungi kehidupan mereka dimasa sekarang, lewat perjodohan kedua belah pihak keluarga akhirnya mereka berdua menikah atas dasar cinta bagi sang lelaki namun atas dasar terpaksa bagi wanita.
Ironis memang apalagi saat tidur pertamanya sang istri begitu enggan melihat wajah lelaki yang telah dinikahinya itu, dalam beberapa waktu sebagai seorang suami ia pun tidak ingin menyakiti hati seorang pribadi cerminan bunga di atas karang yang tidak hanya bisa kulihat namun juga bisa kubawa untuk pulang dan bercengkrama bersama denganya, acapkali ia lebih memilih tidur di bawah sedang istrinya ia biarkan untuk tidur nyenyak di atas,
“Yang penting dia tidak marah-marah lagi.” kata-kata itu yang selalu ia sematkan hingga tidak ada yang mampu mengalahkan ketulusan hatinya yang telah dicuci air mata derita sejak kebencian itu timbul pertama kali atas seorang wanita terhadap dirinya.
Kebencian sepertinya tidak juga lepas dari rona yang terpancar lewat kasat wajah tidak menerima. Hingga pada suatu hari di kamar itu dengan mata judesnya dan mulut seakan cetus, istrinya berbicara tentang tujuan ia menikahi dirinya,
“Apa sebenarnya yang membuatmu mendukung perjodohan ini, apakah atas dasar cinta? Sebatas kagum? Atau bahkan nafsu?.”
Sedikit lirihan kecil yang kaku karena mungkin baru beberapa hari pada atap yang sama membuat sang lelaki terkaget karena tidak seperti biasanya ia lebih dulu mengajaknya untuk berbicara.
“Hmmm.. Entahlah rasa ini telah muncul sejak prosesi taaruf dalam pengukuhan jurusan saat di kampus, itu sudah lama sekali dan Aku sangat bersyukur bisa satu kelas denganmu meskipun motivasiku ini tidak jelas mengapa selalu ada namamu dalam hati yang tak tentu arah dan tujuanya ini.” Suaminya menjawab dengan lantunan yang tidak beraturan, tapi dirasa ini sudah cukup jelas bagi wanita itu.
“Hmmmm..” Sejenak wanita itu menghela nafas.
“Aku minta maaf, jangan tersinggung dengan jawabanku itu. Bukankah dulu kau sangat baik kepadaku, tentunya kau pun mengetahui jika Aku lebih suka menyendiri saat dalam kondisi seperti apa pun, sampai akhirnya kau juga yang selalu menemani dalam kesendirian itu. Sejak saat itu pula rasa ini semakin menjadi hingga menjadi sebuah pengharapan yang lebih, namun.. apa daya, ketika kau tahu tentang semua perasaanku, kau malah menjauh dengan jawaban yang tidak pasti, sejujurnya saat itu aku sangat sedih.” Ia menceritakan segala keluh kesahnya dimasa yang lalu.
Sekilas pun Fina yang kini telah menjadi istrinya tidak menyangka jika seorang lelaki yang dulu sempat membuatnya benci ternyata mempunyai rasa cinta serta keyakinan yang begitu mendalam. Hingga mereka terus menikmati setiap obrolan-obrolan diwaktu malam pancarkan kenyamanan dalam diri, ini merupakan sejarah awal dari sebuah rasa cinta wanita itu, lalu muncul petisi sederhana tentang panggilan Abi dan Umi.
Sampai waktu demi waktu dilaluinya dengan genggaman erat keyakinan pribadi seseorang, Sungguh rencana Tuhan sangat indah untuk sekedar dirasakan manakala bersyukurlah. Nampak karena mereka sering berbicara, bercumbu dan berbagi pendapat, tidak lama setelah itu keduanya merasa sangat cocok dan begitu nyaman, maka setelahnya benih-benih cinta itu kini mulai muncul dari hati seorang wanita yang pasti juga memiliki hati nurani. Hingga kebencian itu berubah menjadi cinta berkat kuasa Tuhan. Kasih sayang yang lalu sangat jauh dipelupuk jiwa kini berubah menjadi sangat dekat dan begitu mengagumkan

Pengkhianatan

Pengkhianatan

Judul Cerpen Pengkhianatan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih


“Bisa gak kita berhenti melakukan ini?”
Dua gadis berstatus pelajar duduk di meja masing-masing. Salah satu gadis asyik sekali menggambar di kertas sketsanya, sedangkan gadis yang lainnya berwajah kusut sambil terus mendesah. Ia tidak menggambar satu pun garis di kertasnya. Matanya malah mengarah ke komplotan gadis-gadis diluar batas wajar, yang sedang bergosip sambil merok*k.
“Renni? Bisa gak kita berhenti? Gue merasa kegiatan ini mulai membosankan,” Sekarang wajah Renni, temannya yang asyik menggambar itu berubah. Mungkin ia merasa sedikit tersinggung. “Lihat deh, anak-anak yang lagi ngumpul itu. Kelihatannya rame banget, tuh.”
Renni mengarahkan pandangannya ke anak-anak yang dimaksud oleh temannya itu. Kepalanya menggeleng seketika, lalu kembali menggambar. Teman di sebelahnya mulai naik pitam. Omongannya tidak diladeni, padahal menurutnya itu adalah saran.
“Lu bener-bener sahabat yang membosankan Renni. Payah, gak seru kayak mereka!” serunya berusaha menyinggung lagi. Mereka siap bersilat lidah.
“Gue gak percaya lu berani ngomong gitu. Dulu kita dekat gara-gara ngegambar kan, Dev? Kita bahkan sering banget ngegambar di kelas dan ketahuan Pak Ade. Ingat masa-masa itu, Devi,” ujar Renni tersenyum kecil. Tiba-tiba ia menatap Devi dengan wajah memerah. “Tapi gara-gara anak-anak gak bener itu, lu jadi..”
BRAK! Devi menggebrak meja. Menggertak. “Itu MASA LALU, Renni! MASA LALU!”
Dua meja di pusat kelas itu menjadi pusat perhatian. Semua mata mendelik ke arah Devi yang pergi ke luar kelas dengan langkah galak. Setelah ia pergi, semua mata pun mengarah kepada sahabatnya yang pura-pura bersikap masa bodo. Renni tetap berkutat dengan gambarannya. Gambaran yang rusak karena air mata.
Diluar Devi terus melangkah. Entah kemana tujuannya. Ia berusaha meluapkan seluruh amarahnya dengan melangkah. Sekitar sepuluh menit ia berjalan, mengelingingi kantin, lantai bawah, lantai atas, bahkan kamar mandi. Sekolahnya itu memang luas. Teman-teman seangkatannya jadi heran dengan perilakunya. Sampai akhirnya ia menabrak seseorang.
Sangat sial, ia menabrak ketua genk anak-anak “gak bener” tadi. Jika kalian tahu seperti apa genk ini, kalian akan merasa sangat iba dengan nasibnya. Karena setiap anak yang kelihatan kesepian, akan ditarik masuk. Cuma-cuma sih, namun kerugiannya besar. Sangat besar.
Gadis yang ditabrak mendongak, sebab gadis di depannya itu termasuk anak-anak penyaing tinggi lelaki dalam masa pubertas. Ia lalu tersenyum puas, “Lu, anak tinggi yang tadi marahan ya sama si anak payah itu?” Devi terlihat kebingungan. Setelah mengerti maksudnya, dia mengangguk dengan wajah memerah. Tiba tiba ketua genk itu membentuk kumpulan dengan anggota-anggotanya, kelihatan seperti merencanakan sesuatu. Selesai itu, mereka membentuk lingkaran setan yang menghadang Devi pergi kemana-mana.
Devi terblokir. Ia tak tahu apa yang sedang teman-temannya lakukan. Si ketua genk pun menjelaskan keheranannya.
“Mau gak, masuk genk kita? Genk kita tuh lebih seru daripada anak payah tadi, iya kan girls?!” ucapnya kepada teman-temannya. Mereka menjawab kompak. Ketua genk itu pun kembali menatap Devi dengan tampang merendahkan. “Kita gak akan jaim satu sama lain, kita selalu seru-seruan. Coba lihat, mana muka anggota kita yang kelihatan kusut? Gak ada!” Genk itu tertawa-tawa bagai perkataan basi tadi itu lucu. Devi makin bingung. Benaknya saling debat. Dan saking malangnya nasib gadis ini, setan-setan di hatinya memenangkan debat. Ia mengangguk yakin, menatap wajah ketua genk yang jelas-jelas tampang “gak bener” itu.
Genk itu tersenyum “sangat” puas. Lalu si ketua menggandeng tangan kiri Devi, dan mereka mulai berjalan. Itu adalah hari paling parah bagi Devi, ketika ia menghentikan persahabatannya dengan orang yang benar dan memutuskan untuk bergabung dengan orang yang salah. Tuhan tidak berhak mengarahkan orang-orang yang kufur ke jalan yang lurus.
Tak terasa hari-hari berlalu dengan cepat. Sudah hampir sebulan Devi berteman dengan genk menyimpang ini. Dia diajarkan merok*k, clubbing, pacaran, judi, sampai nark*ba. Sekarang sudah lengkap dirinya menjadi orang yang salah pergaulan, dan tak sedikitpun orangtuanya mengetahui hal itu.
Renni? Ia sangat tersakiti. Dirinya merasa terkhianati oleh janji yang terucap bertahun-tahun yang lalu. Janji yang bertuliskan, “Kita akan terus bersahabat sampai ajal datang, atau sampai hari akhir singgah ke bumi.” Awalnya ia berharap kepada Tuhannya agar persahabatan mereka terhubung kembali, tapi harapannya tidak terkabulkan. Sekarang ia makin miris dengan kelakuan mantan sahabatnya yang tentu saja diluar batas wajar. Tapi keberuntungan akan selalu datang kepada orang-orang yang bersabar. Dan itu terjadi sebentar lagi, di tanggal kelima bulan Januari.
Saat itu, Renni sedang menggambar seperti biasanya. Setelah kejadian ia dikhianati oleh sahabatnya, Renni jadi lebih suka menggambar. Pensil dan kertas itu bagai menyelesaikan masalahnya. Dua benda itu selain sebagai pengembangan bakat, juga berfungsi sebagai pelampiasan amarah Renni.
Tiba-tiba tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes satu persatu, membanjiri manga buatannya. Dan terus menetes, hingga puluhan tetesan. Sampai kertas itu jadi lapuk dengan sendirinya. Mata dan hidung Renni memerah, ia berusaha menghapus air matanya namun sulit. Air itu terus menetes. Karena malu akan peristiwa itu, Renni berlari ke kamar mandi sebelum ada yang tahu apa yang terjadi.
Renni mendobrak salah satu pintu kamar mandi. Ia menguncinya, lalu dengan refleks ia melepaskan semua masalahnya. Gadis itu merengek tak terkendali, isakan tangisnya terdengar sampai keluar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil air mata terus keluar melalui celah-celah jarinya. Ia memojokkan tubuhnya di sudut kamar mandi. Merasa menjadi gadis paling sial di dunia.
Setiap kita jatuh pasti selalu ada yang menjulurkan tangan, setiap ada masalah pasti selalu ada yang menolong kita untuk keluar dari pemasalahan itu.
BRAK! Pintu kamar mandi didobrak oleh seorang gadis. Renni terkejut setengah mati. Siapakah itu? Tiba tiba wajah gadis tadi terlihat iba terhadap Renni. Ia buru-buru menarik Renni keluar dari kamar mandi, lalu memeluknya yang terus menangis. Dua orang teman dari gadis tersebut datang dan ikut-ikutan memeluk Renni. Entahlah, perasaan Renni mendadak berubah. Ia merasa orang-orang yang memeluknya ini akan setia menemaninya sampai ajal datang, atau sampai hari akhir singgah ke bumi. Renni tersenyum bahagia. Ia memeluk ketiga orang ini dengan sangat erat.
Ketiga orang itu adalah teman sekelasnya, Helga, Aini, dan Naura. Ketiga orang itu adalah sahabat barunya, yang selalu mendatangkan kebenaran, dan bukannya keburukan. Ketiga orang itu memang akan menjadi sahabat yang setia, bukan pengkhianat seperti mantan sahabatnya. Dan menariknya, ketiga orang itu juga suka menggambar!
—
Tuhan, apa yang terjadi denganku? Aku merasa seluruh anggota tubuhku rusak. Begitu juga dengan pikiranku, dan hatiku. Mengapa mereka meninggalkanku? Padahal aku selalu bersenang-senang dengan mereka. Apa yang terjadi denganku, Tuhanku?
Dulu mereka janji akan menjadi sahabat selamanya, janji akan setia menemaniku di setiap waktu luang. Tapi kok mereka malah pergi? Memang aku salah apa? Sekarang aku kesepian.
Andai aku bisa kembali ke masa lalu, disaat aku dan Renni selalu menggambar bersama, bermain bersama, dan tertawa bersama. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Begitu bodohnya aku. Sekarang aku iri melihat mereka berempat tertawa-tawa, bermain bersama, bagai tak ada masalah yang bisa menyesatkan mereka. Aku ingin ikut mereka, Tuhanku. Tapi aku terlambat. Renni dan teman-teman barunya tidak menganggapku apapun lagi. Aku menyesal. Sungguh sangat menyesal.

Merajut Mimpi

Merajut Mimpi

Judul Cerpen Merajut Mimpi
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih


“LINE LINE.” smartphone Yumna terus saja berbunyi, padahal hari sudah masuk tengah malam. “Yeay orderan lagi!” teriaknya gembira begitu membaca pesan yang masuk. Dengan sigap jari-jarinya menari di atas ponsel seraya menjawab pesan. Ya, sudah dua bulan ini ia menjalankan bisnis kecil-kecilan dengan membuka online shop. Sebagai langkah awal agar bisa menggapai cita-citanya menjadi pengusaha sukses.
“Pokoknya besok followersnya harus 1.000 orang.” kata Yumna menyemangati diri sendiri.
Tiba-tiba ada pesan masuk “Udah malam, belum tidur Yum?” ternyata dari Vicky, sahabat kecil Yumna. Sudah tabiatnya menceramahi Yumna, jangan kecapaian lah, jangan tidur malam-malam lah, jangan telat makan, jangan kebanyakan main di luar, udah berasa pacar aja. Yang lucunya, pernah satu kali Vicky pergi ke luar negeri, lalu iseng mengecek Yumna apakah sudah tidur atau belum. Pas diangkat teleponnya, ia malah marah-marah karena berarti Yumna masih bangun tengah malam. Ya gimana gak bangun, orang telepon berbunyi terus.
Melirik ke arah jam, ternyata memang sudah masuk tengah malam. “Iya kebablasan nih Vick, kirain baru jam 10.” jawabnya. “Kamu susah banget dibilangin, baru juga 3 hari lalu keluar dari rumah sakit, nanti kalau ngedrop lagi gimana?” kata Vicky. “Iya iya abis ini langsung tidur. Tapi besok jadi ya, temenin ke tempat Icha pulang sekolah” jawab Yumna. Vicky mengiyakan, lalu ia menutup telepon.
“Bagaimana sudah bisa buat brosnya?” tanya Yumna. “Sudah jadi 14 bros Yum, ternyata gak susah ya” jawab Icha, teman Yumna, yang seorang anak jalanan. ”Sip, syukur deh, kalau gitu, ini aku ambil ya. Besok aku post brosnya di online shop. Bros yang kemarin banyak yang suka. Oiya, Aku gak bisa lama-lama nih, mau latihan sama anak-anak yayasan kanker. Minggu depan kita mau mengadakan drama musikal, kamu datang juga ya nanti.” kata Yumna. “Pasti, kalau ada waktu nanti aku mampir. Hati-hati di jalan Yum, Vick.” jawab Icha. Di perjalanan Yumna merasa pusing, ada darah keluar dari hidungnya. Ia menepi dan tiba-tiba jatuh pingsan. “Yumna sayang, bangun nak.” panggil ibu Yumna. Ternyata ia sudah berada di rumah sakit dan dikelilingi orang-orang terdekatnya termasuk sahabatnya, Vicky. “Mama gak ngelarang kamu beraktivitas, tapi tidak seperti ini. Terlalu padat. Pokoknya kamu gak boleh sering-sering ke sana lagi, atau kamu mau terus-terusan masuk rumah sakit!” lanjut ibu Yumna. Tak bisa melawan, Yumna pun akhirnya menyetujui untuk mengurangi aktivitasnya di luar. Sejak kejadian itu, Vicky lebih protektif terhadap Yumna. Hampir tiap jam ia menegur Yumna agar tidak terlalu kecapaian. Yumna senang sahabatnya ini benar-benar perhatian dan peduli.
Seminggu telah berlalu, namun Yumna tak kunjung membaik. Ia justru lebih cepat lelah dan terpaksa melewatkan perannya dalam drama musikal. Ia pun mulai jarang mengupdate online shop miliknya. Namun karena sudah dikenal baik, tetap saja ada pesanan masuk. Bukannya membaik, keadaan Yumna semakin hari semakin memburuk. Hingga ia harus bulak balik opname. Badannya sudah tak mampu berbuat banyak. Ia kini hanya berbaring di tempat tidur dan sesekali mengutak atik samartphone miliknya. “Hai gimana udah baikan?” tanya Vicky. Yumna hanya tersenyum. “Vick tolong cek dong ongkir ke Solo dari Bandung.” pinta Yumna. “Sudahlah Yum, off dulu jualannya. Nanti kalau sudah fit baru lanjut.” Ucap Vicky. “Iya, asli sekali ini aja terakhir. Orangnya sudah pesan dari 2 minggu lalu soalnya, pre order. Sekarang sudah ready tinggal kirim.” Kata yumna membela diri.
Menjelang malam kondisi Yumna melemah. Tubuhnya sudah tidak kuat melawan kanker yang diidapnya 5 tahun belakangan. Dan pada akhirnya Ia menghembuskan napas terakhirnya malam itu. Vicky yang mendengar kabar tersebut segera menuju rumah sakit dan melepas sahabatnya tersayang menuju pangkuan Tuhan Yang Maha Esa.
“Ayo ayo dikumpul, biar besok sudah bisa dipost. Vik cepat sini tolong bawain ya, berat. Hufft makin rame aja teman-teman yang gabung, ruangan ini sudah gak nampung. Berkat Yumna anak-anak jadi bisa dapat penghasilan lebih. Sayangnya dia gak sempet melihat keberhasilan ini.” Ucap Icha sedih.
Dua bulan sudah semenjak kematian Yumna, Bros buatan Icha dan anak jalanan lain kini sudah punya pelanggan setia. Ini pertama kalinya kunjungan Vicky ke tempat Icha sepeninggal Yumna. Ia masih merasa kehilangan dan menjauhkan diri dari tempat-tempat yang mengingatkannya pada Yumna.
“Oiya online shop Yumna gimana jadinya?” tanya icha. Vicky baru teringat dan tanpa sadar, jarinya tengah mengetik akun online shop milik Yumna. “Sis bales line!”, “Sis pesanan saya udah 3 bulan gak datang-datang! dasar penipu! dan masih banyak komentar yang lainnya. Vicky kaget dan marah, namun ia berusaha menenangkan diri. Dihirupnya napas dalam-dalam lalu ia menjawab komen tersebut satu persatu dan menjelaskan bahwa pemilik online shop ini bukanlah penipu, melainkan telah meninggal dunia. Ia memohon maaf bagi sahabatnya tersebut dan berjajin akan segera membicarakannya dengan keluarga Yumna.
Mau bagaimana lagi, memang sudah batasnya, kerja keras Yumna untuk meraih mimpinya, menjadi pengusaha sukses agar dapat membantu orang-orang di sekitarnya. Meski sakit terus menggerogoti raganya namun semangatnya tetap membara. Selamat jalan Yumna, sahabatku yang hebat.