About

MTS YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS. YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS. YASTI 1 Cisaat Kabupaten Sukabumi

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS YASTI 1 CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi.

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

MTS YASTI I CISAAT

Jalan Veteran No. 66 Cisaat Kabupaten Sukabumi

SAS Kls 8

SAS Kls 8
Klik Disini

UJIAN MADRASAH 2026

UJIAN MADRASAH 2026
LINK UJIAN MADRASAH

TO Ujian MAdrasah

TO Ujian MAdrasah
Ayo klik disini

ZONA BELAJAR YASTI

ASAS KELAS 7

ASAS KELAS 7
klik untuk membuka

Rabu, 12 April 2017

Ramadhan in Love

Ramadhan in Love

Judul Cerpen Ramadhan in Love
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 March 2017

Sifa adalah seorang pelajar di sebuah SMA favorit di daerahnya, ia berhijab semenjak menduduki bangku MTs, ia adalah gadis desa yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Pengetahuan tentang agama yang ia miliki sangatlah luas karena ayahnya juga seorang ustadz.
Bulan Ramadan telah datang, namun sepertinya ada yang berbeda di hati Sifa di tahun ini. Karena ditahun ini di Dukuhnya sedang kedatagan para santri dari Pondok Pesantren “Safari Ramadan”. Kegiatan ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh para santri untuk mengisi kegiatan selama bulan Ramadan. Santri yang ada di dukuhnya termasuk santri baru yang umurnya sepantaran dengan Sifa. Ditambah dengan beberapa alumni dan guru pendamping.
Para Masyarkat di Dukuh Sifa sangat ramah dengan kedatangan para santri. Mereka beruntung dan sangat bahagia dengan kedatangan para santri, karena anak-anak mereka bisa diajarkan mengaji oleh para santri.
Setiap selesai sholat tarawih mereka dari salah satu santri akan Berkultum. Setiap santri akan diberikan kesempatan, dan setiap harinya mereka bergantian untuk Berkultum. Dan dihari pertama kedatangan para santri, mereka mengadakan Ta’aruf (Salam Kenal) pada masyarakat. Yang terdiri dari 15 Santri, 5 Alumni, dan 2 Guru Pendamping. Dan dari salah satu santri itu ternyata ada yang Sifa kenal, ia adalah teman Sifa waktu ia duduk di bangku MTs yang bernama Irsyad.
Kebetulan Base Camp para santri itu bersebelahan dengan rumah Sifa, jadi para santri banyak melakukan komunikasi dengan orang tua dan tetangga sekitar rumah Sifa. Dan di hari ke-3 Ramadan Sifa disuruh Ayahnya untuk mengajak para santri untuk diantarkan ke Diniyah (TPA). Di sepanjang perjalanan menuji Diniyah Sifa bercerita mengenai para remaja yang ada di dukuhnya yang sebagian kecil dari mereka sudah terkena pergaulan bebas. Kebetulan tidak semua santri ikut ke Diniyah hanya 7 Santri dan 2 Alumni.
Ketika Sifa sedang bercerita, tiba-tiba sifa terdiam sejenak. Dia risih dengan salah satu dari alumni para santri yang dari tadi terus memandanginya. Alumni Santri itu bernama Yasid (Maulana Yasid Hasballah). Sering kali Sifa memandang ke arah lain namun alumni itu terus memandanginya. “Ya.. Allah.. Ya.. Allah”, batin Sifa hingga beberapa kali.
Dan ketika mereka sampai di Diniyah mereka telah disambut para santriwan/santriwati Diniyah di Dukuhnya. Mereka sangat senang dengan kedatangan para Santri dari Pondok Pesantren tersebut. Setelah mengantarkan sampai ke tujuan Sifa pun pamit dan hendak pulang, namun ketika ia ingin berpamitan salah satu dari alumi yang bernama Yasid itu pun juga ingin kembali ke Base Camp. Akhirnya Sifa pun pulang dengan pemuda alumni tersebut.
Di sepanjang perjalanan pulang Yasid banyak bertanya mengenai Sifa tentang sekolahnya, teman-temannya, bahkan Yasid menggoda Sifa ketika ia mengatakan “Dek Sifa udah punya pacar…?” Sifa tidak menjawab pertanyaannya dan mengalihkan topik pembicaraan. Dalam hati Sifa bergumam, ada yang aneh dengan pria ini, apalagi tatapan matanya ketika melihat dirinya.
Setelah beberapa hari di Dukuh Sifa sepertinya Yasid menyimpan perasaan terhadap Sifa, Yasid tahu selama berada di sana Irsyadlah yang paling dekat dengan Sifa. Karena itulah Yasid meminta tolong kepada Irsyad untuk PDKT dengan Sifa. Irsyad tidak bisa menolak permintaan dari seniornya, karena sebenarnya Irsyad juga menyimpan perasaan yang sama terhadap Sifa sejak mereka berteman di bangku Mtsnya.
Irsyad selalu mengajak bercerita kepada Sifa, ia juga bercerita tentang Yasid kepadanya. “Fa.. Kak Yasid titip salam tuh buat kamu”, “Waalaikumsalam”.”Kok Cuma gitu sih…!!”, “Terus…”, “Kamu kok nggak peka sih Fa… Itu tandanya Kak Yasid suka sama kamu..!”. Sifa pun kaget mendengar perkataan Sahabatnya itu, dan berusaha menutupinya “Terus..?”, “Huh.. males kalo ngomong sama orang yang nggak mengerti cinta”. Sifa memang seperti itu, dulu ia juga pernah ditembak sama kakak kelasnya namanya Arya tapi ia tolak, dengan alasan masih kecil dan ingin fokus sekolah dulu. Banyak lelaki yang menembaknya tapi semuanya ia tolak dengan alasan yang sama. Ia juga berkata “Dalam Islam kan tidak ada yang namanya pacaran, pacaran itu haram”. Itulah alasan yang selalu Sifa berikan.
Tapi, kali ini sepertinya berbeda sepertinya Irsyad berhasil membujuk Sifa, setelah beberapa hari Sifa dan Yasid pun mulai dekat. Tapi, dari semua itu membuat Irsyad merasa cemburu ketika Sifa dekat dengan Yasid seniornya. Selama beberapa hari Irsyad tidak lagi berbicara dengan Sifa. Sifa berusaha untuk mencari tahu kenapa Sahabatnya itu menjahui dirinya. Ketika selesai sholat tarawih tanpa sengaja Sifa berpapasan dengan Irsyad. “Sya… kamu kenapa sih…?”, tanpa mengubris Sifa, Irsyad terus berjalan tanpa menggubris perkataan Sifa. Hingga membuat Sifa jengkel kepadanya, “Sya…!”, teriak Sifa sambil menarik tangan Irsyad, yang kemudian membuat Irsyad berhenti dan menghela nafas.
“Sya… Kamu kenapa sih…?, kamu tuh nggak biasanya kayak gini, ngediemin aku.. kita ini sahabat.. kenapa kamu kaya ngehindar dari aku…?”, Sejenak Irsyad terdiam. “Sya… Kenap…”, ”Karena Aku Suka Sama Kamu…”, kata itu akhirnya terlontar dari mulut Irsyad, setelah sekian lama ia menyimpan rasa itu. Memang sejak awal pertemuan dengan Sifa di Mtsnya dulu Irsyad sudah memendam rasa kepada Sifa. “Apa..?”, “Ya.. aku suka sama kamu… udah lama sejak kita ketemu pertama di MTs dulu… tapi, aku tahan semua rasa itu. Karena kita Sahabat”, “Dan Sekarang Kak Yasid Suka sama kamu dan dia minta bantuan aku, aku nggak mungkin nolak permintaannya, karena dia senior aku.. Walaupun aku juga cinta banget sama kamu.” “Sya.. kita itu sahabat kenapa kamu nggak pernah ngomong ini sama aku?” “Karena aku pengen kamu bahagia sama orang lain..”.”Maksudnya?” “Aku sakit Fa..! aku nggak mau kalau nanti aku bakal ninggalin kamu selamanya..” “Kamu sakit apa…” ”Leukimia…” “Haaa… Sya…!!”, seketika itu air mata Sifa bercucuran dan Sifa pun memeluk Irsyad dengan eratnya.
Hingga akhirnya tiba 10 hari sudah Santri Safari Ramadhan telah usai di hari teerakhir. Sedih sangat mendalam dirasakan Yasid karena meninggalkan wanita yang dicintainya, dan entah kapan dapat betemu lagi dengan Sifa. Dan Irsyad mulai mengikhlaskan Sifa bila Sifa nanti mendapatkan pria yang dapat menjaganya dengan baik. Sebelum mereka pergi, Yasid menemui Sifa “Dek… tunggu kakak ya kakak Insya Allah akan kembali 4 tahun lagi, dan kakak akan meminamng kamu.” Sifa pun kaget mendengar perkataan Yasid dan tidak berkomentar apa-apa. “Kakak pamit dulu ya… Semoga kamu sukses”
Berat rasanya Sifa ditinggal pergi Yasid, yang sebenarnya Sifa itu memendam rasa yang sama dengan Yasid atau tidak… Hanya Sifalah yang tahu…?. Dan ia masih memikirkan Irsyad sahabatnya yang memiliki rasa padanya dan penyakit yang dideritanya. ”Fa.. aku pamit ya… semoga kamu sukses dan bisa berjodoh sama kak Yasid”, canda Irsyad “Apaan coba… ihhh” “Jangan gitu Fa.. nanti kalo jadi jodoh kamu gimana…?”. Dalam keadaan yang sakit pun Irsyad masih bisa bercanda menggoda Sahabatnya. Semua Santri Safari Ramadhan itu pun meninggalkan desa Sifa dengan penuh kenangan.
Hingga lebaran tiba… dan di hari ke-3 lebaran, Sifa mendapatkan sebuah telepon. Dan telepon itu ternyata dari Ayah Irsyad. Beliau mengatakan kalau Irsyad telah kembali kepada Allah, tentu saja hal itu membuat Sifa merasakan sedih yang mendalam. Sahabat yang ia sayangi kini telah pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali. Dan di hari, minggu, bulan, dan tahun berikutnya Sifa tetap menjalani harinya tanpa kehadiran Sahabatnya Irsyad, Kini Irsyad hanyalah tinggal kenangan. Sampai akhirnya Sifa kembali bersekolah dan diwisuda S1… Tentu hal ini membuat Sifa senang karena sifa telah menjadi sarjana.
Dan Sifa pun kembali pulang ke desanya, setelah sampai di depan rumahnya Sifa mendapati ada Sebuah mobil dengan rasa penasaran Sifa pun segera bergegas masuk ke rumah. “Assalamu’alaikum” “Waalaikumussalam”, terdengar sahutan dari dalam rumah. “Nah itu Sifa sudah pulang.. Abi tinggal dulu ya…”, Sekarang hanya tinggal Sifa dan seorang tamu laki-laki itu. Lelaki itu memulai percakapannya “Dek Sifa masih ingat sama Kakak…?” “Mmmm…” “Masak nggak ingat sama kakak? 4 tahun lalu kakak ke sini… masih ingat sama Yasid (Maulana Yasid Hasballah)”, Sifa spontan kaget mendengar nama itu. “Kakak.. Kak Yasid..?” “Iya… dan kakak sudah menepati janji kakak buat kembali setelah 4 tahun, dan kakak bakal minang kamu.” “Kamu mau kan jadi Istri Kakak..” dengan malu-malu Sifa mengangguk. Dan setelah mereka menjalani masa Ta’aruf mereka melangsungkan pernikahan dengan sederhana. Dan mereka berharap kelak mereka menjadi Jodoh Dunia-Akhirat selamanya, melalui cinta suci keduanya.

Kisah Sang Putri Hawa

Kisah Sang Putri Hawa

Judul Cerpen Kisah Sang Putri Hawa
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 8 April 2017

Hilang, sinar rembulan kembali ke tempat peraduannya lalu datang sang mentari menghangati pagi itu. Kicauan burung dan hijaunya dedaunan menyempurnakan indahnya pagi itu, sungguh sempurna ciptaan Allah. Di sebuah rumah yang sederhana terlihat seorang gadis sedang asik menyapu halaman rumahnya, dan ia tersenyum melihat seorang wanita yang usianya hampir 60 tahun datang dengan motor bebeknya, tidak lain ia adalah teman dari ibu gadis itu.
“Bibi…”
“assalamu’alaikum anakku, libur ya?”
“Wa’alaikum salam warohmatullah iya bibi sekarang fat sedang libur, bibi makin cantik saja. Ngomong-ngomong ada apa pagi-pagi begini bibi ke sini? Oh iya tidak sopan sekali fat membiarkan bibi berdiri, bagaimana kalau kita sarapan bareng bi?”
Mereka pun terlarut dalam perbicangan seperti sedang melepas rindu, di sana juga hadir ibunda fatma yang ikut berbincang. Di tengah perbincangan terucap pertanyaan yang membuat fatma dan ibundanya tercengang karena kagetnya.
“fatma, fatma adalah gadis yang baik, bibi sayang sama fatma dan bibi sudah anggap fatma sebagai anak bibi, maukah fatma menjadi anak bibi sesungguhnya tentunya dengan menikah dengan anak bibi Ali?”
Sinar mentari seakan tertutup awan, gelap gulita. Tak ada cahaya sedikitpun menerobos untuk menyinari bumi. Siang itu, seakan hari yang terkunci, siang yang penuh kebisuan, fatma tak ingin berbicara apapun, ia tak ingin pergi ke manapun seakan terkunci dalam kamar. Sungguh hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang, pikirannya yang sedang diliputi kebingungan terobati oleh bait-bait do’a dan lantunan ayat suci. Sesekali ia teringat wajah ali dan semua kenangannya bersama ali sedari kecil sampai mereka terpisah saat mereka kuliah,
“ali… ali.. ali… Ah kenapa harus ali?”
Siang menjadi sangat bisu dan malam menjadi sangat sunyi hanya ada gemercik air hujan awet sekali dari tadi sore. Fatma terlelap dalam kesunyian. Alarmnya berbunyi, tepat pukul 3 pagi, di sepertiga malam terakhir. Ia beranjak turun dari kasurnya dan ke luar. Selang tak lama kemudian kembali lagi dengan wajah cerah nan suci. Ia menggelar sajadahnya. “Tak ada tempat lain lagi aku bisa mengadu. Tidak ada tempat aku menyandarkan diri, aku yang diberatkan sebuah beban. Aku masih memilikiMu ya Allah. Tempat aku bersujud, mengobral segala permasalahanku hingga aku puas, hingga aku bisa bangkit lagi, ringan, dan beban itu terlupakan. Ampunilah segala dosaku. Ya Allah.. engkau mengetahui yang ghaib, Engkau mengetahui apa isi kalbu makhlukMu, Ya Allah aku mohon kepadaMu sebagai karuniaMu yang agung karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa, dan Engkau maha tau sedang aku tidak tahu. Ya Allah.. sekiranya Ali bin Fullan itu baik untuku, agamaku dan kehidupanku serta lebih baik pula akibatnya di dunia dan akherat, maka takdirkanlah ia untuku jadikanlah ia suamiku namun jika sebaliknya ya Allah.. jauhkanlah ia dariku takdirkanlah kebaikan untuku kemudian jadikanlah aku ridha dalam menerimanya.. aamiin”
Fatma adalah seorang guru di Sekolah Dasar Negeri sedang Ali adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta. Sesekali fatma berjumpa dengan ali, namun kali ini berbeda. Jantungnya seakan berdetak lebih kencang dan tidak seperti biasanya ia sangat malu menatap wajah Ali.
“ah saat ini ali sudah bukan lagi teman masa kecilku, Ya Allah.. sungguhkah benar ia ali? Apakah ali sudah mengetahui tentang perjodohan ini?
Ba’da dzuhur, matahari bersinar, memancar hingga menembus sela-sela dedaunan sebuah pohon manga besar, fatma memegang handphone dan buku duduk di sebuah bangku di bawah pohon itu.
“Tanya jangan, Tanya jangan?” ucap fatma seperti kebingungan. “Tanya saja lah. Bismillah”
“assalamu’alaikum Ali, sehat?” fatma memberanikan diri mengirim pesan kepada Ali
“Wa’alaikum salam Alhamdulillah sehat, teh fatma sehat?”
“Alhamdulillah sehat, oya ali boleh fat bertanya? Sebelumnya mohon maaf kalau mengganggu waktunya”
“silahkan mau Tanya apa teh?”
“Ali sudah tau rencana bibi mau menjodohkan kita?”
“iya ibu sudah membicarakannya.”
“menurut ali bagaimana, apa setuju?”
“InsyaAllah”
“masudnya?”
“Insya Allah saya bersedia dijodohkan dengan teh fatma.”
“semoga Allah ridho.”
“aamiin”
Pepohonan seakan mengeluarkan sepoy angin yang sangat sejuk saat itu, tak kuasa fatma meneteskan air mata. Saat itu tanggal 17 Maret 2016 merupakan hari yang selalu terkenang oleh fatma, ia pun tak kuasa menolak perjodohan itu, kufur sekali jika menolak menikah dengan laki-laki sesholeh ali dan mertua yang sebaik bibi, pikirnya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan mereka berdua saling mengenal. entah itu dibilang ta’aruf atau apa mereka tak pernah melontarkan kata-kata layaknya sepasang insan, mereka pun tak pernah bertemu dan berkomunikasi namun mereka berdua saling menunggu dalam diam.
Tanggal 15 Juli 2016 ponsel fatma berdering, ternyata itu pesan dari ali. Wajah fatma sumringah, senyum fatma lebar membaca pesan yang isinya ternyata ali mengajak bertemu di suatu tempat.
“ehhm pakai baju apa ya? Nanti fat harus ngomong apa sama ali? Aah di cantik-cantik juga wajah fat sama saja seperti ini.. duuuuh ini ali lho fatma hanya ali, biasanya kan juga biasa aja.”
Sore hari yang hangat, seakan menghangatkan dua insan yang saling cinta untuk bertemu. Di meja no 22 sudah duduk seorang pemuda yang mengenakan kaos biru seakan sedang menanti seseorang, ya tidak lain pemuda itu adalah ali yang sedang menanti sang dewi nya yaitu fatma. Tiba-tiba terlihat seorang gadis berhijab tersenyum kepadanya.
“assalamu’alaikum” sapa gadis itu yang tidak lain adalah fatma.
“wa’alaikum salam, ayo duduk the fatma”
Fatma duduk tepat di depan ali, di meja no 22 terjadi perbincangan dua insan yang terlihat malu-malu, sesekali fatma meminum es teh yang dipesankan ali untuk menghilangkan rasa gugupnya. Hingga pada saatnya fatma melontarkan pertanyaan yang membuat ali tersenyum malu untuk menjawabnya.
“ka ali… lalu bagaimana dengan kita?”
Ali pun menjawab dengan suara pelan seraya tersenyum.
“kita jalani saja seperti ini ya teh.. hingga pada saatnya Allah mempersatukan kita. Saya tidak ingin pacaran atau tunangan, kalau sudah siap nanti langsung menentukan tanggal pernikahan kita.” Jawab ali sambil menatap fatma.
Subhanallah… Mendengar pernyataan ali, hati fatma berbunga-bunga. Ia seakan ingin mengucap syukur yang sekeras-kerasnya.
“Alhamdulillah ya Allah.. nikmat mana lagi yang hamba dustakan? Sungguhkah laki-laki yang di depan dewi adalah kelak jadi suami dewi? Ya Allah ridhoi niatan baik kami hingga engkau mempersatukan kami dalam ikatan suci. Aamiin.” Ucap fatma dalam hati.
Sejak pertemuan itu mereka sering memberi kabar, sesekali fatma memberikan ucapan selamat bekerja untuk ali. Mereka layaknya sepasang insan yang menunggu untuk saling cinta. Lantunan do’a selalu terucap dari bibir fatma untuk ali.
Namun masa-masa kehangatan mereka hanya berlangsung dua bulan. Ali sudah tak lagi sesejuk embun pagi, bahkan ia mengatakan perkataan yang menyakitkan fatma bahwa ali tidak ingin lagi berkomunikasi dengan fatma. Hingga pada suatu waktu fatma memberanikan diri bertanya.
“assalamu’alaikum ka ali, maaf fat ganggu fat sudah tidak kuat memendam rasa penasaran fat dan mohon maaf fat jadi suudzon sama ka ali, boleh fat bertanya ka? Adakah kesalahan fat yang membuat ali bersikap seperti itu? Ataukah ada wanita lain selain fatma?”
Tidak lama kemudian handphone fatma berdering dan itu adalah dari ali.
“wa’alaikum salam… iya benar”
Hati fatma seperti tertusuk duri, nafasnya seperti ditimpa bantal, sesak. tak kuasa ia menahan tangisannya. Tetesan air mata membanjiri pipinya, tak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain menangis. Ia ingin berteriak sekencag–kencangnya.
“Ali jahat… Ali tega sama fatma, kenapa kamu memilih fatma sedang kamu menyukai wanita lain.. jahat sekali ali. Ya Allah.. ampuni fatma yang saat ini terluka.”
Ia teringat bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Ia langsung berwudhu dan membuaka al-qur’an. Lalu ia tertuju pada satu ayat pada surat al-baqarah: 216 yang artinya: “boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
Fatma tersadar, ia langsung bersujud mensyukuri kasih sayang yang Allah berikan untuknya.
“ya ilahi ya Rabb.. ampuni hambamu yang kufur ini, segala puji bagi Mu ya Allah atas kasih sayang Mu. Maafkan hamba yang menyalahi aturanmu, hamba mencintai seseorang yang belum halal untuk hamba padahal jelas-jelas Engkau tidak menyukainya, hamba berdekatan dengan laki-laki yang belum mahram dan jelas-jelas Engkau haramkan. Terima kasih atas teguran Mu Rabb. Tidak ada yang meninggalkan, ini justru jawaban yang hamba tanyakan selama ini dalam istikharah hamba.. semoga Engkau mengampuni ali dan berikan kesabaran serta keiklasan pada hamba atas ketetapanMu.”
Ali dan fatma, mereka ternyata laksana sepasang merpati yang berpapasan. Kisahnya hanya sesaat, tak ada yang membenci namun fatma tak ingin mengulang cerita lagi tentang ali. Biarlah semuanya terkubur waktu. Entah apa yang Allah rencanakan atas kisah ini namun kebaikan pasti akan menghampiri.
“Untukmu…
Aku yang kau abaikan. Aku yang kau acuhkan
Adalah orang yang tak bosan mendo’akanmu dalam segala hal
Walau tak kau hiraukan, walau tak kau pedulikan, walau kau lupakann
Namun aku tak kan berhenti untuk selalu mendo’akan
Kau tak kan pernah tau karena aku tak pernah memberi tahu
Kau tak kan merasakan karena aku tidaklah seperti apa yang kau inginkan
Kau takan mengerti, karena kau tak pernah menghargai
Walau apapun yang ada dalam dirimu, tak pernah ku sesali jika hatiku terarah padamu
Walau sering kali banyak duka, namun ku yakin setiap luka aka nada obatnya.
Aku percaya kelak akan tiba saatnya ada pria yang mencintaiku sepenuh hati meski bukan kau orangnya.
Harapku hanya satu,
Semoga Allah menggetarkan hatimu. Agar kau menyadari akan hati yang tak pernah kau lihat ini.
Dan bila nanti kau tahu perasaan ini,
Semoga itu adalah waktu dimana Allah menanamkan rasa cinta dihatimu
Namun jika ternyata itu bukanlah saat seperti yang kumau,
Semoga saat itulah aku telah mendapatkan penggantimu
Biar Allah menentukan jalanku, serta memberikan yang terbaik untuku ataupun untukmu.”
Cerpen Karangan: Dewie Putri Aljannah
Facebook: Dewi Maryati
Cerita Kisah Sang Putri Hawa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Ikhlas Melepasmu

Ikhlas Melepasmu

Judul Cerpen Ikhlas Melepasmu
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 8 April 2017


“Alhamdulillah.. Ya Allah… akhirnya penantianku selama sembilan tahun, dalam do’aku selalu kusebut namanya, Terima Kasih Ya Allah.. Engkaulah Sang Maha Pengabul Do’a..”. Bahagia.. Ya itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Tidak pernah kusangka kalau aku akan menikah dengannya. Ustadz Ali, ya.. dia adalah ustadzku yang mengajariku tentang banyak hal keagamaan. Dan sekarang kami akan menikah. Kalau menginggat dulu pada saat pertama kami bertemu benar-benar pertemuan yang tidak disengaja.
Dulu kami bertemu dalam acara Lomba antar TPA, dan kebetulan acara itu diselenggarakan di desaku. Dan aku pun ikut serta menjadi panitianya. “Fat…” seseorang memanggilku dari arah belakang, “Bima… Kaifa Haluki…?” “Alhamdulillah ana bil Khoir” “Wah jadi panitia nih…” “Ya… ikut serta lah.. apalagi kegiatan positif kaya gini…”. Lelaki yang memanggilku ialah Bima, Bima adalah temanku sejak aku di MTs, hingga saat ini pun kami masih berkawan baik, walaupun kami berbeda sekolah setelah SMA. Bima yang bersekolah di Madrasah, sedangkan aku memilih untuk sekolah di SMA. “Oh ya Fat ini kenalin kakak aku…” “Ali…”, pria itu hanya menyandarkan tangannya di depan dada tanda ia memperkenalkan dirinya, dan aku pun menjawab seraya mengikuti gerakan tangannya “Fatimah…” “Ali dan Fatimah… seperti nama pasangan yang sangat romantis… kaya Fatimah Az-zahra dan Ali bin Abi Tholib”, aku pun hanya tersenyum begitu juga dengan laki-laki yang bernama Ali itu. “Yaa… aku pergi dulu ya Fat.. kamu ngobrol dulu sama kak Ali… Aku tinggal bentar ya kak…”. Ali pun hanya menganggukkan kepala. Aku pun tidak tahu harus berkata apa untuk memulai pembicaraan itu.
Tiga tahun aku berkawan dengan Bima, tapi aku tidak pernah bertemu dengan keluarganya. Aku hanya mendengar berita tentang keluarganya, Bima mempunya dua kakak lali-laki semua tapi di antara mereka sangat berlainan sikap, yang satu sangat Sholeh sedangkan yang satunya sangat berbanding terbalik dengan kata Sholeh. Dan aku pun tidak tahu apakah kakak Bima ini yang Sholeh tau yang satunya.
“Dek Fatimah.. teman Bima… sejak di MTs kan… sekarang sekolah di mana…” “SMA N 1 DARUL MUTTAQIN” “Wah itu kan SMA favorit.. beruntung sekali adek bisa sekolah di sana..” “Ya.. Alhamdulillah”. Begitulah pembahasan kami, ternyata kakaknya Bima yang Bernama Ali orangnya sangat supel dan menyenangkan dalam waktu singkat kami dapat saling mengenal. “Tapi.. maaf saya harus panggil anda siapa?.. Kakak.. Mas.. at..” “Ustadz Ali”. Dari itu kami saling mengenal, bahkan kami saling bertukar nomor telepon agar mudah berkomunikasi. Dan aku kini masih duduk di kelas X, setelah aku lulus dari MTs hafalan Qur’anku banyak yang lupa dan aku ingin memulai tiqran kembali. Dan akhirnya aku memulai tiqranku dengan Ustadz Ali, setiap minggu kami bertemu di masjid dan mengaji bersama. Ustadz Ali mengajariku banyak hal tentang Agama, dan pengetahuanku tentang Islam semakin luas. Dan aku mudah menghafal bila Ustadz Ali yang mengajarkannya.
Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, sudah cukup lama Ustadz Ali mengajariku mengaji dan aku merasa nyaman bila mengaji dengannya. Pertanda apakah ini Ya Allah..? Apakah Ini..? Ya Allah aku akui memang aku telah menyimpan rasa sejak pertama kali bertemu Ustadz Ali, tapi aku menyimpan rasa ini hanya Bima adik Ustadz Ali dan Ustadz Syarif yang mengetahui itu. Dan kadang Bima juga mengodaku dengan membicarakan keseharian Ustadz Ali. Aku hanya tersipu malu, dan menunduk saat Bima mengatakan itu. Tapi, aku dan Ustadz Ali bagaikan langit dan bumi, Ustadz Ali ahli agama pandai dan fasih dalam berbahaa arab. Walaupun aku juga dapat berbahasa arab tapi aku tidak sefasih Ustadz Ali.
“Mbak Fatimah, nanti kalau nikah sama Kak Ali.. jangan galak-galak ya sama Dek Bima” itulah kata-kata Bima yang selalu ia lontarkan saat menggodaku. Hingga aku tidak tahan untuk menyembunyikan rasaku ini. Setiap minggu bersama, dan menghabiskan waktu mengaji berdua adalah hal yang kunanti setiap minggunya.
Tiga tahun berlalu, dan kini aku tengah mempersiapkan ujianku di SMA, aku akan lulus. “Ustadz do’akan semoga kamu dapat nilai yang terbaik, dan dapat sekolah tingkat tinggi yang kamu inginkan, jangan lupa sholat, tetap tiqron jangan sampai hilang hafalannya”. Itulah pesan dari ustadz Ali yang selau ku ingat. Dan membuat semangat aku dalam belajar, hatiku selalu berseri jika mengingat perkataan Ustad Ali berupa nasihat yang diberikan kepadaku. Hingga ujian selesai dan pengumuman kelulusan tiba, Alhamdulillah aku mendapatkan nilai terbaik dalam ujian ini. Terima Kasih ya Allah.. tak sabar rasanya aku ingin segera memberi tahu nilaiku kepada Ustadz Ali.
Handphonku pun berdering ada WA yang masuk aku pun segera membukanya, ternyata dari Ustadz Ali hatiku mulai berdesir alangkah senangnya aku dan aku membukanya… “Ya Allah…” Air mataku tumpah seketika, dihari kelulusanku aku mendapatkan nilai terbaik dan aku mendapatkan Undangan Pernikahan Ustadz Ali.. Ya Ustadz Ali akan menikah dengan Perempuan yang bernama Aini.
Tiga tahun sudah aku menyimpan rasa terhadap ustadz Ali. Hari-hariku sedih menjelang pernikahan Ustadz Ali, hingga hari H pernikahan Ustadz Ali. Aku mengirimkan sebuah pesan kepada Bima, “Titip buat Ustadz Ali, Selamat menempuh hidup baru semoga bahagia dan menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warohmah”, “Sabar.. Fat.. kalau Kak Ali jodoh kamu pasti bakal disatukan lagi sama Allah, mungkin kak Ali bukan jodohkamu di dunia tapi mungkin Allah telah menakdirkan kalian untuk menjadi jodoh di Akhirat kelak”. Cukup lama aku membaca pesan balasan dari Bima, ya pesan dari Bima membuatku sadar Cinta tak harus memiliki, tapi di hatiku yang paling dalam aku masih mencintainya Ya Allah. Ya Allah begitu sulitnya aku menerima kenyataan ini, berat rasanya, aku belum pernah merasakan cinta ini sebelumnya. Ya Allah kuatkanlah aku ya Allah.
Seminggu sudah setelah pernikahan Ustadz Ali digelar. Tapi aku belum bisa Move On, dalam pikiranku masih terbayang wajah Ustadz Ali. “Assalamualaikun Fat… Kak Ali mau ngajak ketemuan kamu tuh, di tempat biasa…!! Datang ya Penting!!” ada sebuah pesan dari Bima. Aku bingung mengapa Ustadz Ali ingin bertemu denganku ada hal penting apa yang hendak ia bicarakan denganku. Apa Ustadz Ali masih tetap mengajariku mengaji dan menghafal bersama atau apa..?. Aku ingin segera menemuinya, walaupun hati ini berat untuk bertemu dengannya.
Masjid Al-Fath, itulah tempat yang selalu kami gunakan untuk mengaji. Kami selalu bertemu di sana, untuk mengaji dan menghafal bersama. Di pelataran masjid telah ada sepeda Ustadz Ali. Segera aku masuk Masjid dan mendapati Ustadz Ali tengah membaca al-Qur’an di dalam Masjid. Seperti biasanya, sembari menantiku Ustadz Ali selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdunya, dan akan membuat hati siapapun tenang bila mendengarkannya.
“Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” “Dek Fatimah… sudah datang”, aku pun hanya memberikan sedikit senyuman kepadanya, dan aku pun duduk menghadap Ustadz Ali dan agak berjarak. “Gimana UN-nya sukses…?, kan sudah pengumuman kelulusan, gimana hasilnya” aku pun menyerahkan nilai UN ku kepada Ustadz Ali. Ustadz Ali masih menanyakan nilaiku dia masih peduli kepadaku karena aku muridnya atau hanya untuk sekedar basa-basi denganku. “Peringkat berapa..?” “Alhamdulillah..” “Ya Alhamdulillah.. nilainya bagus tapi peringkat berapa…?” “Alhamdulillah satu Ustadz..” Ustadz Ali pun tersenyum, seperti senyum bahagia, dan ia mengucapkan selamat padaku. Tanpa basa-basa lagi, aku menanyakan kepada Ustadz Ali mengapa ia menyuruhku untuk menemuinya “Maaf… Ustadz ada apa ya Ustadz, kok Ustadz ngajak ketemuan..?” “ini kan minggu.. ini waktunya kamu setoran hafalan sama Ustadz” “Tapi, Ustadz mau minta pendapat kamu..” “Apa ustadz..?” “Ustadz itu suka sama orang dan orang itu juga suka sama Ustadz, dan Ustadz mau nikah sama dia..”. Hati ini rasanya semakin teriris-iris makin perih dan seketika air mata ini tumpah membasahi wajahku.
Teleponku berdering, segera aku buka, ternyata dari orang iseng yang mengirimkan pesan kosong kepadaku “Maaf Ustadz… saya ada keperluan saya harus pergi… Assalamualaikum” aku melangkahkan kakiku keluar dari masjid dan membawa luka perih yang kudapat hari ini. Dan di ambang pintu “Ustadz mau nikah sama kamu..!” langkahku terhenti. Dan ustadz Ali menghampiriku di ambang pintu “Kamu mau kan?, Ustadz juga tahu kalau kamu juga cinta sama Ustadz” “Ustadz kan sudah menikah..”, Ustadz Ali tertawa kecil “Kata siapa, Ustadz nggak jadi nikah, Batal” “Kenapa..?”. Aku pun kembali duduk dan Ustadz Ali pun menceritakan kejadian bagaimana pernikahannya bisa batal. Dan ternyata wanita yang bernama Aini telah hamil bersama laki-laki lain, Ustadz Ali menikah dengannya juga karena dijodohkan oleh orangtuanya dan Ustadz Ali tidak enak jika menolak permintaan kedua orangtuanya.
“Kamu mau kan jadi istri Ustadz.. Ustadz akan segera melamar kamu setelah kita menjalani Ta’aruf” “Saya… juga mencintai ustadz, tapi saya masih ingin sekolah dulu” “Ustadz akan nunggu kamu… selama apa pun… sampai kamu siap”. Ustadz Ali benar-benar mencintaiku, ia mau menungguku hingga aku selesai kuliah.
Enam tahun sudah aku kuliah dan akhirnya aku diwisuda. Dan Ustadz Ali juga mendampingiku saat aku diwisuda. Dan hari yang kunanti telah tiba, Menikah dengan Ustadz Ali. Ustadz Ali benar menepati janjinya untuk menungguku sampai selesai kuliah. Selama enam tahun ia terus menungguku, dan akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliahku.
“Ukhty.. tunggu saya di rumahmu, lusa saya akan ke rumah Ukhty, datang untuk melamar Ukhty” Pesan dari Ustadz Ali yang dikirimkan kepadaku, Ukhty… ya semenjak enam tahun silam Ustadz Ali memanggilku Ukhty, tetapi tetap saja aku memanggilnya dengan sebutan Ustadz. Aku belum bisa memanggilnya dengan sebutan Akhi. Baru tadi malam Ustadz Ali mengirimkan pesan untukku, tetapi rasanya aku telah membacanya enam tahun silam. Apa karena aku tidak sabar karena ingin dilamar Ustadz Ali atau aku yang berlebihan menanti kedatangan Ustadz Ali..? entahlah rasanya aku ingin segera berganti hari agar Ustadz Ali segera datang ke rumah melamarku. Dan aku juga telah memberi tahu kepada orangtuaku kalau lusa Ustadz Ali akan datang melamar, dan aku mengatakan bahwa Ustadz Ali adalah kakak Bima.
Malam ini datang seorang pria bersama keluarga, aku menunggunya di kamar dan mendengarkan pembicaraan itu. Tidak kusangka Ustadz Ali datang secepat ini katanya masih besok tapi hari ini Ustadz Ali datang lebih cepat, apakah ia ingin memberiku kejutan atau ia ingin segera menikah denganku. “Kedatangan saya kemari… bersama orangtua tentunya Bapak telah tahu, saya serius dengan anak Bapak. Dan kedatangan saya kemari untuk meminang anak Bapak untuk jadi istri saya”, di dalam kamar hatiku mulai berdesir, ingin rasanya aku ingin segera keluar dan mengatakan “Ya.. aku mau”. Hingga akhirnya orangtuaku menyuruhku keluar dari kamar untuk menemuinya.
Aku telah berias dan memakai pakaian terbaik mungkin untuk menemui Ustadz Ali. Segera aku keluar dan menemuinya. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat lelaki itu, Pria itu bukan Ustadz Ali yang kunanti. Orang itu Mas Zain anak kenalan ayahku. Mas Zain yang kutahu bukan anak yang baik, ia suka bergabung dengan teman-tenannya yang suka berj*di dan minum-minuman keras. Tapi, aku tidak tahu pasti apakah ia juga melakukan hal maksiat itu atau hanya berkawan dengan orang-orang itu. Yang jelas aku tidak menyukainya, aku tidak suka kepadanya dan aku hanya menantikan kedatangan satu pria yaitu Ustadz Ali.
Kabar kedatangan Mas Zain ke rumahku telah tersebar di desaku, entah siapa yang membocorkan hal itu. “Wah.. Fat mau nikah sama Zain anak orang kaya itu” itulah kata-kata yang dilontarkan orang-orang kepadaku untuk menggoda. Tapi, tidak aku menggubrisnya sama sekali. Hingga kabar itu terdengar hingga ke Ustadz Syarif, Ustadz Sarif adalah sahabatku. Aku selalu bercerita tentang segala hal kepadanya, termasuk perasaanku kepada Ustadz Ali. Ia juga mengetahui hal itu, dan ia menanyakan hal itu padaku. “Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Ustadz Ali.. sudah sembilan tahun kamu menantikan hal ini..” “Yang pasti aku tidak mencintai Mas Zain dan aku hanya ingin menikah dengan Ustadz Ali”. Ya Ustadz Syarif menanyakannku lewat sebuah pesan singkat dari telepon.
Teleponku pun berdering, Ustadz Ali meneleponku dan aku pun segera mengangkatnya dengan hati yang berbunga-bunga “Assalamualaikum, Ukhty” “Walaikum salam Ustadz” “Ukhty sudah enam tahun saya menunggu kamu, dan kita akan segera menikah. Tapi, mungkin Allah berkata lain. Mungkin Allah memiliki takdir yang berbeda tidak seperti apa yang kita inginkan. Allah telah memiliki rahasia untuk menentukan takdir setiap umatnya. Semoga Ukhty bahagia dengannya. Selamat untuk Ukhty. Maaf kita harus mengakhiri hubungan kita” “Tapi Ustadz, saya tidak mencintai Mas Zain, saya hanya mencintai Ustadz” “Illaa maasyaa Allah.. Kecuali Kalau Allah Menghendaki kita akan dipersatukan kembali Ukhty… Wassalamualaikum” “Waalaikumsalam” Ya Allah sembilan tahun penantianku dalam segala godaan kau berikan padaku, belum juga usai.. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Tahu Segalanya aku serahkan semua ini Kepada-Mu Ya Allah.
“Bagaimana kamu mau kan nikah sama Zain..?” “Tapi, Abi saya hanya mencintai Ustadz Ali, Saya tidak mencintai Mas Zain” “Ustadz Ali.. mana buktinya, kalau dia memang mau meminang kamu seharusnya ia datang ke sini. Apalagi yang kamu tunggu Nak, kamu sudah dewasa” “Tapi, Abi tahu kalau Mas Zain itu suka bergaul dengan anak-anak yang suka berj*di dan minum-minuman keras” “Ya memang Zain bergaul dengan mereka. Tapi, Zain tidak pernah melakukan perbuatan terlarang itu. Setelah kamu kuliah justru Zain mondok enam tahun selagi menunggu kamu” “Tapi, Abi saya tidak mencintainya” “Tapi, kamu tidak mungkin menolaknya, Abi nggak enak sama keluarga mereka. Selama ini keluarga merekalah yang membantu usaha Abi.. Keluarga Abi sudah hutang jasa sama keluarga Zain… jadi kamu harus menerima Zain untuk jadi suami kamu” “Nak… mungkin Ali bukan jodoh kamu di dunia tapi mungkin Allah memiliki rahasia lain yang tidak kita ketahui. Bisa jadi Ali itu adalah jodoh kamu ketika di akhirat kelah” Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi selain mengiyakan perkataan mereka.
Seminggu kemudian, hari pernikahanku bersama Mas Zain dilaksanakan dengan meriah. “Selamat ya, Ukhty semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah. Saya akan segera menyusul Ukhty ke pelaminan. Saya juga akan menikah” pesan Ustadz Ali yang dikirimkan kepadaku, aku tidak menyangka Ustadz Ali mudah sekali melupakanku hingga dalam waktu singkat dia akan menikah dengan orang lain.
Beberapa bulan telah berlalu setelah pernikahanku dengan Mas Zain. Ternyata Mas Zain orangnya baik, dia juga taat beribadah dan dia dapat melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami. Walaupun bagaimanapun Mas Zain adalah suamiku aku harus menghormatinya jika aku tidak dapat mencintainya. Aku harus belajar untuk mencintainya, karena cinta Mas Zain kepadaku sangatlah besar dan tulus. Walaupun sebenarnya di dalam hatiku yang sangat dalam masih tersimpan untuk Ustadz Ali, ya hanya untuk Ustadz Ali.
Ustadz Ali mengatakan bahwa ia akan menikah, ternyata Ustadz Ali berbohong, Ustadz Ali ingin aku bahagia dengan orang lain dan ia pun mengalah dengan Mas Zain. Yang sebenarnya Ustadz Ali juga sangat menciantaiku dan belum bisa melupakanku. Tapi aku telah menjadi milik orang lain, telah menjadi istri Mas Zain. Aku jadi teringat kata Bima enam tahun silam, mungkin Ustadz Ali bukan jodohku di dunia tapi mungkin Allah memiliki rahasia lain yang tidak kita ketahui. Bisa jadi Ustadz Ali itu adalah jodohku ketika di akhirat kelak. Tapi, aku juga berdo’a agar aku menjadi jodoh dunia-akhirat bersama Mas Zain. Illaa maasyaa Allah.. Kecuali Kalau Allah Menghendaki.. Hanya Allahlah yang tahu… Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Tahu segala sesuatu yang manusia tidak ketahui. Apakah aku akan dipertemukan dengan Ustadz Ali kelak di akhirat…?.

Peri Mimpi

Peri Mimpi

Judul Cerpen Peri Mimpi
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fantasi (Fiksi)


“Aku yakin.. Peri mimpi itu ada. Aku pasti membuktikannya” ucap berlina kepada teman-temannya. Berlina pun berlari menuju perpustakaan untuk mencari buku tentang peri mimpi. Hasilnya pun nihil. Tidak ada satu buku pun yang berisikan tentang peri mimpi.
“Tuh kan berlina.. Kata mamaku peri mimpi itu gak ada” ucap marina.
“Peri mimpi itu ada. Peri mimpi biasannya datang ketika kita tertidur dan memberikan benih benih mimpi indah untuk kita” bantah berlina.
Ketika malam setelah berlina belajar, berlina pun menghampiri mamanya. Dia bertanya “Ma.. Apakah peri mimpi itu ada?”.
“Peri mimpi itu gak ada nak.. Peri itu hanya ada di dunia dongeng.. Bukan di dunia nyata” jelas mama berlina.
“Ih.. Semua pada gak percaya kalau peri mimpi itu ada” sewot berlina dan segera menuju ke kamarnya. Dan dia tertidur.
Berlina bermimpi bertemu dengan peri mimpi.. Dan peri mimpi berkata “Hai si cantik, berlina..”
“Siapa kamu?” ucap berlina
“Aku adalah peri mimpi.. Aku akan mengganggu tidur nyenyakmu. Hahaha” ucap peri mimpi dengan tertawa. Berlina pun diam dan dia berteriak memanggil mamanya.
“Iya nak.. Berlina kamu kenapa?” tanya mama berlina.
“Berlina mimpi buruk ma” jelas berlina.
“Sudahlah nak kamu tidur lagi saja. Itu hanya mimpi buruk” perintah mamanya.
“Baiklah ma” ucap berlina.
“Hah, gak mungkin peri mimpi itu jahat.. Peri mimpi kan baik, peri mimpi selalu memberikan mimpi indah bagi anak anak” ucap berlina dengan mengerutkan dahi..
Tiba tiba peri mimpi datang “Hai berlina.. Aku adalah peri mimpi, maafkan aku karena telah memberimu mimpi buruk.. Aku lupa menaburkan benih benih mimpi indah ketika kau tidur. Dan sebagai permintaan maafku. Aku akan mengabulkan 1 permintaan yang kau berikan” ucap peri mimpi.
“Benar peri? Aku mau peri mimpi sekarang ikut aku ke teman-teman dan mamaku. Agar mereka percaya kalau peri mimpi itu ada” kata berlina.
“Baiklah ayo” peri mimpi pun mengabulkan permintaan berlina.
Dan akhirnya mereka bertemu dengan mama berlina, juga teman-temannya..
“Hai mama, hai teman-teman” sapa berlina
“Itu siapa berlina?” tanya marina dan ibunya
“Inilah peri mimpi yang aku ceritakan”.
“Hah?” sontak mama dan teman-teman berlina pun terkejut.
“Iya semua. Akulah peri mimpi. Aku yang selalu menaburkan benih benih mimpi indah kepada anak anak di bumi” ucap peri mimpi.
“Anakku. Mama sekarang percaya sama kamu..” kata mama berlina..
“Aku juga percaya kok berlina” ucap teman-temannya
“Ya sudah ayo kita pulang ma. Peri mimpi.. Terimahkasih ya sudah mau membantuku” ucap berlina. Peri mimpi pun tersenyum.
Akhirnya peri mimpi pun kembali ke kayangan dan teman-teman maupun mama berlina pun percaya akan adannya peri mimpi.

Bersama Hujan

Bersama Hujan

Judul Cerpen Bersama Hujan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis


Hari itu merupakan hari ke dua Dara bersekolah di sekolah tersebut. Kejadian berawal saat Dara sedang berteduh di halte dekat sekolah. Dia duduk memandangi setiap tetesan hujan yang jatuh membasahi jalanan. Dara merangkul tangannya, sekali kali menggosok kedua telapak tangannya agar ia terasa lebih hangat. saat itulah, seorang pria datang dan duduk di samping Dara.
“Boleh duduk di sini?” pria itu bertanya dan tersenyum pada Dara. Dan Dara membalas dengan senyuman.
“Hm… kelas berapa? kayaknya, aku baru lihat..” tanya pria itu tersenyum pada Dara.
“Kelas 10 kak… kalau kakak kelas berapa?” jawab Dara dengan deg-degan.
“Kelas 12. namanya siapa?”
“Aku Dara. kakak sendiri?”
“Deo. Deo Alando”. dia tersenyum dan tak lagi melanjutkan pembicaraan. Nampak oleh Dara, Deo sedang asyik bermain game di handphonenya.
Sembari menunggu hujan reda, Dara kembali melakukan hal yang sama. Ya! menggosokkan kedua telapak tangannya. Begitu seterusnya. Dara ingin berbincang lagu dengan Deo. Namun, ia tak ingin mengganggu Deo yang sedang asyik bermain game.
sekitar 30 menit, hujan mulai reda. Dara memutuskan untuk langsung pulang tanpa mengabari Deo. ia terus berjalan. makin menjauh, dan setelah itu, Deo berteriak
“HEYY.. DARA.. KITA BISA BERTEMAN KAN?” entah Dara mendengarnya atau tidak, dan terlihat dari jauh, Dara sedang tersenyum.
Setelah kejadian itu, Dara sering bertemu dengan Deo. Lama kelamaan, mereka saling menyukai, tetapi, tak ada satupun di antara mreka yang berani untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Dan bahkan, mereka terkadang pulang bersama. Dan anehnya, saat mereka pulang bersama, pasti selalu terjadi hujan. Ya hujan! Hujanlah yang telah membuat mereka bertemu.
Waktu terus berlalu. Deo yang saat itu berada di bangku kelas 12, tentulah harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
“Dara.. kau tau? tak terasa kita sudah sangat dekat. Kedekatan kita ini telah membuat orang beranggapan bahwa, kita merupakan saudara kandung. Dan kau tau? saat awal kita bertemu, perasaanku tak karuan. dan aku terus mencari jawabannya. dan jawabannya adalah, ternyata aku mulai mengagumimu. Kagum akan kepintaranmu, prestasimu, kecantikanmu dan tentunya keindahan hatimu. dan kelak, kuharap kau membaca surat ini. entah kapan kita kan kembali bertemu. namun aku, selalu menunggumu. DARA.
Untuk: Lasya Vindara.
Dari: Deo Alando.”
Deo melipat kertas itu, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah amplop, dan diletakkannya ke dalam tas Dara secara diam-diam. Dan Hari itu merupakan hari terakhir Deo berjumpa dengan Dara. dan tentunya, saat itu sedang terjadi hujan, hujan yang mengiringi kepergian Deo dari sekolah tersebut.
2 tahun kemudian
Sejak hari itu, Deo dan Dara tak lagi berjumpa. Dara yang duduk di halte dekat sekolah untuk menunggu hujan reda, mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Deo.
“Sebuah perkenalan akan berujung pada perpisahan” samar-samar ia teringat kalimat yang Deo berikan untuknya, sebelum acara perpisahan kelas 12 saat itu.
“Kak Deo.. andai kau tau… aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu. andai kau juga tau itu. dan aku berharap, akan ada keajaiban yang membuat kita kembali bertemu. Aku juga menyukaimu, kak Deo. dari dulu, saat awal kita bertemu.” Kata Dara yang melihat surat yang diberikan Deo waktu itu.
“Kau tau? aku selalu membaca surat ini setiap terjadi hujan. karena hanya bersama hujan, aku selalu merasa ada di dekatmu. Bersama hujan pula, kita bertemu, dan aku berharap, bersama hujah ini…” belum sempat Dara melanjutkan kalimatnya, seseoranmg mengatakan dengan suara yang pernah ia dengar.
“Dan bersama hujan pula, kita bertemu kembali. terimakasih Dara.”
“HAHH… KAK DEOO…”
mereka bertemu kembali BERSAMA HUJAN

Hujan

Hujan

Judul Cerpen Hujan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keseharian



Kala itu aku sangat kesal dan menggerutu “kenapa hujan turun saat aku akan pulang?” Entah kenapa kaki ini melangkah ke arah parkiran khusus karyawan di gedung dimana aku bekerja, padahal jelas hujan saat itu turun cukup deras dan aku mulai berlari kecil.
Setiba di parkiran aku melirik ke samping tempat motorku terparkir.
“hujan ya?” Tanyaku kepada salah seorang anak prakerin yang seperti kebingungan, entah karena hujan atau apa aku pun kurang tau.
Waktu terasa sangat lambat namun jam telah menunjukan pukul 16.00. Aku membawa jas hujan namun enggan kukenakan, aku turunkan motorku yang terparkir di lantai 4 gedung supermarket tempatku bekerja, sampai di lantai paling bawah aku melihat anak prakerin yang tadi kutemui di atas nampaknya dia belum pulang.
“Kenapa belum pulang? Masih hujan yah?” Seruku membuka obrolan
“iya kak, hujan” jawabnya sambil mengerutkan dahi.
Mungkin dia gak bawa jas hujan pikirku. “Bawa jas hujan gak?” Sambungku
“bawa kak, tapi males pakenya” jawabnya.
Sesaat kulihat wajahnya yang manis, dia pun melihatku, malu juga rasanya saat aku melihatnya dia malah melihatku..
Hujan pun reda kulihat dia mulai menyalakan motornya “kak maya duluan yah!!” Serunya menyalami dia hendak pulang “ohh iya, hati hati” jawabku. Oh ternyata namanya maya. Dalam hati hujan ini pertemukan aku dengan dia. Mungkin aku bisa lebih mengenalnya, aku bertemu dengan dia disaat hujan turun, bila kala itu hujan tak turun mungkin kita tak pernah bertemu.
Cerpen Karangan: Kiki Rz7
Facebook: Kiki Rz
Aku ingin berkarya meski masih jauh dari kata baik, bagi semua pembaca luangkan waktu untuk komen, komentar yang membangun sangat saya butuhkan untuk perbaikan kedepannya…
Cerita Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Pertaruhan Semu

Pertaruhan Semu

Judul Cerpen Pertaruhan Semu
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi)


“Meratapi takdir sendiri tentu saja bukan hal yang dibenarkan. Namun, hanya itu yang bisa kulakukan selama ini.” Ujar Takdir.
“Apa motivasimu berbuat seperti itu? Bukankah kau tak harus mati atau meghilang untuk mendapat ketenangan?” tanya daun
Takdir menggelangkan wajahnya. Sesekali melirik burung-burung putih teman daun. Ia heran dengan dirinya sendiri, mengapa ia harus ada di setiap awal kelahiran, proses hidup, dan kematian.
Daun masih menunggu jawaban dari pertanyaanya. Ia meringis melihat tubuhnya mulai terkikis air hujan. Sementara di bawah pohon ia melihat genangan air coklat keruh. Air itu semakin meninggi saat takdir berdiri tepat di samping daun.
“Apakah itu sakit?” tanya takdir
“Takdir, kau bahkan belum menjawab pertanyaanku tadi?”
“Aku sebenarnya datang untuk memberi peringatan padamu. Kau harus tahu, ketika keberadaanku telah kau sadari saat itu juga tugasku untuk menyertaimu seperti pada fase sebelumnya.”
“Memang aku menunggu itu, Takdir”
Daun menegadahkan wajahnya ke langit seolah menyibak naungan awan di atasnya. Pandangannya tulus menguatkan hatinya untuk segera betemu Sang Maha Kuasa.
“Itu sia-sia, tidak ada yang dapat kau lakukan kini,” Komentar takdir. “Aku lebih tahu darimu,” Takdir tersenyum melanjutkan ucapannya.
“Tenang saja, aku tak akan merepotkanmu. Huh, seharusnya kau tidak usah menjemputku. Aku akan datang sendiri padamu” … “Lihatlah itu!” seru daun
Ditunjukkanya tumpukan sampah di antara dua tiang beton jembatan. Tangannya beralih menunjuk gedung-gedung tinggi, jalanan aspal, dan terakhir dirinnya sendiri.
Untuk kesekian kalinya Takdir kebingungan. Ia malah berjalan mundur hingga menabrak pohon. Naasnya, itu tempat daun musim gugur bernaung. Langkah Takdir yang begitu cepat tak disadari daun sehingga dia terpisah dari ranting. Tubuhnya mengambang diangkat udara. Matanya terpejam, menunggu tanah menggapainya.
“Berbahagialah kau daun, tak akan melihat derita bumi lebih panjang!” ujar pohon
“Aku setuju denganmu, lihat senyumnya” timpal ranting
Dari kejauhan terlihat angin berusaha menahan kepergian daun. Ia mengunpulkan udara di sekitarnya menjadi pusaran angin kecil yang dapat dinaiki. Daun melayang-layang dibuatnya, sedangkan tanah harus bersabar menunggu daun kecil itu sampai kepadanya.
“Kau sungguh hebat daun, sampai-sampai takdir dibuat kebingungan olehmu. Mungkin bisa kau jelaskan maksud ucapanmu tadi padanya. Aku tak tahan melihat wajah dungunya itu,” ujar angin terkekeh
Angin melambaikan tangannya pada takdir, berharap agar takdir mendekat ke mereka. Takdir mengikuti isyarat angin itu. Ia melangkahkan tubuh tak berwujudnya tergesa-gesa. Hingga udara di sekitarnya berhamburan kesana-kemari karena datangnya energi besar yang dimiliki takdir. Daun menebarkan senyumannya. Dia ingin sekali mengutarakan maksud perkataannya tadi ke Takdir.
“Takdir, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan. Tolong sampaikan padanya, daun kecilnya ini akan datang menghadap. Aku telah bahagia sekarang. Kau pasti tahu takdir, nanti aku dan tanah bersatu kembali. Sama seperti awal kelahiranku dulu.”
Tanpa sengaja, takdir menerjang pusaran angin di bawah daun. Daun melayang tak beraturan, namun menghasilkan ritme yang indah. Beberapa menit kemudian daun diam tak berkutik dalam pelukan tanah tandus.
‘Lagi, lagi, dan lagi aku melihat kejadian ini. Sama seperti sebelumnya. Kali ini sebuah jiwa yang baru saja terpisah dari raga masih mampu tersenyum padaku serta mengucapkan terimakasih. Satu hal yang membuatku terbungkam, ia mampu membuatku kebingungan dengan setiap perkataannya. Ia satu satunya, mungkin.’ pikir Takdir
Takdir masih tak beranjak dari tempatnya. Ia terdiam memandangi keadaan bumi. Bumi sudah tua, namun beban berat yang ditanggung semakin bertambah setiap harinya.
“Ini salahku angin, mengapa aku tak memahami arah pembicaraanya sejak awal.”
“Tenang takdir, aku akan memperjelas hal itu padamu. Sebenarnya ini ada hubungnnya denganmu…,”
“Maksudmu?” ujar Takdir memotong pembicaraan
“Biarkan aku melanjutkan ucapanku tadi. Kau pasti ingat kan saat daun menunjuk jembatan, gedung, jalan dan dirinya sendiri?” Takdir mangangguk. “Dia ingin berkata padamu bahwa mereka yang menyebabkan kau datang secepat ini. Karena ulah merekalah kami resah, bahkan bumi semakin suram wajahnya. Andai saja mereka sadar. Pasti daun takkan gugur secepat ini dan air meronta-ronta naik ke permukaan,” jelas Angin
“Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Takdir
“Kau kan bisa mengubah semua ini.”
“Tidak juga. Aku takkan bisa seenaknya mengubah takdir, karena takdir adalah hal mutlak yang sudah ditentukan Tuhan. Mungkin kau bisa minta bantuan pada Nasib.”
“Kemarin Pohon sudah bertemu dengan nasib. Dan nasib malah memberikan kalimat yang memuakkan”
“Bisa kau beritahu aku kalimat itu?”
“Kalian tidak bisa mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang melakukannya sendiri. Itu ucapannya.”
“Perlu kau ketahui, perkataanya itu benar. Mulai saat ini aku berharap agar kalian tidak menggantungkan diri padaku maupun nasib. Karena sehebat apapun kami, kami takkan mampu melawan ambisi yang kuat. Begitupula dengan perintah Tuhan. Untuk itu teruslah berusaha membantu bumi dan pegang teguh kepercayaanmu,” ujar Takdir.